• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

TEKNOLOGI

Hoax Bisa Ditangkal

25 May
05:05 2018
0 Votes (0)

KBRN, Semarang : Praktisi media sosial dari masyarakat anti fitnah Indonesia (Mafindo) Korwil Wonosobo, Astin Meiningsih menyebut upaya menangkal hoax dapat dilakukan apabila berita yang muncul masih di bawah empat jam dari awal terbitnya.

“Kalau sudah empat jam atau lebih, akan sangat sulit menangkal karena penyebarannya sudah sangat luas, terutama di platform media sosial seperti facebook, twitter maupun instagram,” ungkap Astin ketika berbicara sebagai salah satu narasumber Training of Trainer (ToT) bagi puluhan admin media sosial komunitas, yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika di aula utama kantor setempat, Kamis (24/5).

Menurut Astin, kecepatan hoax menjadi sangat sulit dikendalikan, karena berdasar pada penelitian, jika ada 10 % pengguna internet, atau biasa disebut dengan warganet pembuat hoax, maka peran penyebarnya mencapai 90 %.

Mengingat efek hoax yang dapat berimbas sangat negatif, bahkan pada stabilitas Negara, Astin meminta para admin media sosial, khususnya yang ada di Wonosobo turut menebar konten positif demi menangkalnya.

“Jangan asal share, atau membagikan konten-konten yang ditemukan di media sosial, terlebih apabila konten tersebut menjurus kepada upaya memecah belah, atau bersifat provokatif,” pintanya.

Para admin media sosial, ditegaskan Astin juga mesti mampu membuat konten-konten positif berisi ajakan menjaga kedamaian, produktif serta mampu menginspirasi orang lain yang melihat.

Pentingnya literasi atau kebiasaan menulis dan membaca secara baik dan benar untuk menangkal hoax dipertegas oleh Valentina Sri Wijiyanti dari Mafindo Koordinator Wilayah Jogjakarta. Menurut perempuan yang akrab dengan sapaan Wiji itu, kebiasaan orang sekarang yang tidak bisa lepas dari gawai, alias smartphone mereka membuat penyebaran hoax kian cepat.

“Dari penelitian kami, orang sekarang tidak bisa melepas pandangan dari layar gawai mereka lebih dari 5 menit,” beber Wiji.

Hal itu, menurutnya sangat berperan terhadap pola komunikasi pengguna gawai yang dengan mudah menyebarluaskan konten yang mereka temui tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Adanya aplikasi pesan instan seperti Whatsapp yang kini digunakan oleh hampir semua pengguna gawai, juga diakui Wiji mempercepat meluasnya hoax.

Maka dari itulah, Wiji menuturkan pentingnya peran para admin medial sosial dalam menangkal peredaran hoax adalah dengan upaya meningkatkan literasi agar warga net mampu mengenali istilah mis informasi maupun Dis Informasi.

“Mis informasi merupakan upaya menyebarkan berita yang keliru tanpa memiliki tujuan tertentu, sementara dis informasi merupakan upaya menyebar berita yang keliru, dengan tujuan agar berita yang benar dan asli menjadi tidak valid dan tidak berguna lagi,” terangnya.

Dengan mengenali istilah-istilah tersebut, Wiji meyakini warga net yang paham dengan literasi akan mudah mengidentifikasi jenis informasi yang ditemui, apakah hoax atau bukan. Kepada semua peserta ToT, Wiji juga menegaskan bahwa hoax menyasar siapapun, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun tidak kebal atau imun terhadap berita-berita palsu.

Harapan terhadap peran para admin medsos yang hadir dalam ToT agar berupaya mengedukasi masyarakat terkait bahay Hoax, juga ditegaskan Kepala Dinas Kominfo, Eko Suryantoro. Bersama Sekretaris Diskominfo Dwiyama SB, Eko meminta agar para pengelola website maupun media sosial di Wonosobo yang kini jumlahnya cukup signifikan tidak ikut-ikutan menyebar atai bahkan menjadi pembuat hoax.

“Melalui pelatihan selama dua hari ini, kami di Dinas Kominfo berharap agar website ataupun media sosial dapat menjadi wahana untuk menebar inspirasi, konten-konten berita valid dan positif, serta mampu mengedukasi masyarakat,” tandas Eko.

Para peserta ToT, nantinya juga diharapkan mampu berperan sebagai trainer bagi admin lain yang berada dalam komunitas masing-masing sehingga upaya menangkal hoax lebih meluas dan cepat diwujudkan. (DNA).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00