• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Polres Kutai Barat Instruksikan Bhabinkamtibmas Deteksi Dini Kelompok Radikal dan Anti Pancasila

13 November
17:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Sendawar : Bhabinkamtibmas atau Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat menjadi ujung tombak kepolisian di tingkat desa atau kelurahan.

Tugas utamanya merangkul masyarakat sekaligus mengemban fungsi Pre-emtif dan bermitra dengan masyarakat. Termasuk mendeteksi dini kelompok masyarakat atau ormas maupun oknum tertentu yang menyebarkan paham radikalisme, terorisme dan anti pancasila.

“Kita ada operasi bina waspada yang sasarannya kelompok-kelompok radikalisme dan anti pancasila. Karena kelompok tersebut ingin memecah belah bangsa dan negara kita. Tentunya kami memberdayakan anggota Bhabinkamtibmas di kampung-kampung,” jelas Kasat Binmas Polres Kutai Barat Iptu Abdul Matholib dalam dialog di RRI Sendawar Rabu (13/11/2019).

Iptu Tholib mengatakan kegiatan yang sering dilakukan Bhabinkamtibmas adalah melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat maupun tokoh agama setempat. Tujuannya agar masyarakat merasa aman dari segala ancaman. Kemudian mencari informasi soal oknum yang terindikasi melakukan gerakan-gerakan menyimpang.

“Kegiatannya yaitu sambang, tatap muka dengan tokoh masyarakat. Tentu kita bisa mencari informasi ke tokoh-tokoh masyarakat atau warga setempat mengenai oknum yang sengaja membawa paham radikalisme seperti itu. Supaya masyarakat tetap merasa aman tidak disusupi, tidak dimasuki oleh kelompok radikal ini,” katanya.

“Ada sekelompok orang yang merongrong negara lalu kita terlambat mendeteksi kan lebih susah memberantasnya. Kita tidak tau tujuan mereka itu apa, tapi yang jelas kalau ada yang merongrong pancasila dan memecah belah bangsa harus kita lawan,” tegas Iptu Tholib.

Meski demikian mantan Kapolsek Siluq Ngurai Kubar dan Long Apari di wilayah perbatasan kabupaten Mahakam Ulu itu mengaku sejauh ini tidak ada kelompok masyarakat maupun oknum yang terdeteksi menyebarkan paham radikal di wilayah ini. Hanya saja ada beberapa anggota bekas organisasi terlarang yang masih ada dan perlu dibina.

“Mungkin yang dulu eks HTI, Gafatar, Ahmadiyah itu kan perlu kita bina saja. Kalau untuk teroris memang belum ada tapi di Tenggarong (Kabupaten Kutai Kartanegara), terus Loa Janan Kota Samarinda itu kan pernah ditangkap disana,” bebernya.

“Makanya kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada. Karena teroris ini menyebar itu bukan hanya di kota saja. Bahkan dulu pernah di tangkap di Muara Jawaq, Kutai Kartanegara, di Anggana. Dari pulau Jawa larinya ke Kalimantan. Makanya biar kita di pedalaman harus tetap waspada,” lanjut Tholib.

Polisi asal Prambanan Jawa Tengah yang sudah mengabdi di korps Bhayangkara sejak tahun 1987 itu meminta masyarakat segera laporkan ke aparat jika mengetahui gerak-gerik oknum masyarakat yang mengarah ke tindakan terorisme.

“Mereka itu nyamarnya lebih pintar dari intel kayanya. Maka kita harus lebih waspada. Kalau ketemu yang aneh-aneh, tidak terbuka dengan lingkungan sekitar, orangnya tertutup segera lapor ke RT, kepala desa atau Polsek terdekat. Dan biasanya orang yang nasionalismenya kurang itulah yang mudah disusupi kelompok radikal,” pinta Tholib.

Senada diungkapkan kabag personil bagian sumda Iptu Eko Adriyanto yang sebelumnya menjabat Kasat Binmas Polres Kubar. Menurutnya kewaspadaan memang perlu dilakukan terhadap oknum yang mencurigakan.

“Yang mencurigakan apalagi pendatang yang tidak jelas segera melapor ke RT. Nanti koordinasikan dengan lurah, camat terus ke polisi supaya segera kita ambil tindakan. Kami 24 jam siaga terus,” ungkap Eko.

“Makanya sekarang kita sering adakan doa lintas agama termasuk pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat. Disitu kita perkuat silaturahmi sekaligus mensosialisasikan masalah bina waspada ini,” tutupnya.

Dia menyebut ada sekitar 500 lebih personil polisi yang ditugaskan di wilayah Kutai Barat hingga perbatasan kabupaten Mahakam Ulu. Namun khusus untuk anggota Bhabinkamtibmas jumlahnya hanya puluhan orang. Sehingga perlu keterlibatan masyarakat dalam menangani degradasi nilai nasionalisme yang berujung ke tindakan intoleran, radikalisme bahkan terorisme.

Apalagi saat ini mayarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Medan Sumatera Utara.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00