• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Iptek

Utamakan Kompetensi, Kemendikbud Wajibkan Kepsek Diseleksi Terbuka

8 November
20:41 2019
2 Votes (5)

KBRN, Sendawar : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia terus memperkuat kompetensi kepala sekolah melalui proses rekrutmen yang berkualitas. Seperti tertuang dalam Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah.

Pertimbangan dikeluarkannya permendikbud ini adalah guru dapat diberikan tugas sebagai kepala sekolah untuk memimpin dan mengelola sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Pertimbangan kedua adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah sudah tidak sesuai dengan dinamika perkembangan pengelolaan pendidikan nasional, sehingga perlu diganti.

Kemudian yang jadi catatan penting lagi adalah syarat calon kepsek harus memenuhi sejumlah kriteria mulai dari pengetahuan, wawasan, gambaran gaya memimpin, karakteristik kepemimpinan serta pengalaman kepemimpinan yang pernah dilakukan dan dimiliki. Tujuannya mendapatkan calon kepala sekolah yang memiliki potensi kepemimpinan yang baik.

Atas dasar itu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) di seluruh Indonesia termasuk di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Provinsi Kalimantan Timur mengadakan seleksi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) secara terbuka.

Seleksi BCKS pertama kali ini diikuti 47 guru terdiri dari 25 bacalon kepala  Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 22 guru untuk tingkat Sekolah Dasar. Berlangsung selama 4 hari mulai 5-8 November 2019 di Hotel Sidodadi Kelurahan Simpang Raya kecamatan Barong Tongkok, Kubar.

Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Disdikbud Kubar Ismail Panji kepada RRI di Sendawar, Jumad (8/11/2019) mengatakan, seleksi BCKS itu merupakan kerjasma Disdikbud Kubar dengan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) dibawah Kemendibud.

“Sebenarnya ada 50 peserta yang ikut tapi 3 orang mengundurkan diri karena sakit. Itu 2 orang yang SMP dan 1 orang yang SD, sehingga untuk seleksi pertama ini berjumlah 47 orang”, jelas Ismail Panji.

Dia mengaku rekrutmen ketat yang diterapkan Kemendikbud adalah solusi terbaik dalam menentukan kualitas dan kompetensi calon kepala sekolah. Pasalnya selama ini penempatan kepsek kerap asal-asalan bahkan tak jarang berbau kolusi.

“Jadi ini murni kemampuan atau kompetensi yang diuji. Selama ini kan tidak pernah diseleksi. Jadi ya paham aja, ada yang berkepentingan sorong-sorong saja padahal tidak berkompetensi”, katanya.

Dikatakan seluruh Kepsek di Kubar belum mengikuti seleksi maupun diklat sesuai amanat Permendikbud. Sehingga seleksi tersebut jadi syarat mutlak untuk seluruh kepala sekolah mulai dari tingkat Taman Kanan-kanak (TK) hingga Sekolah menengah Atas (SMA).  

“Di Kutai Barat ini banyak yang belum memenuhi syarat dari segi kualifikasi pendidikan belum S1 ada (yang jadi kepsek). Bahkan kepala sekolah belum memiliki sertifikasi. Tapi di aturan yang baru ini minimal harus S1, umur maksimal 55 tahun, golongan minimal III C, dan sudah sertifikasi baru bisa ikut seleksi calon kepala sekolah. Karena di seluruh Indonesia juga sama, jadi kita tidak mau ketinggalan dengan daerah lain,” tambah Ismail.

Elpi guru SMP Negeri 1 Muara Lawa Kecamatan Muara Lawa mengaku, meski tidak mudah ikut seleksi namun ia bersyukur bisa masuk bursa calon kepala sekolah melaui rekrutmen terbuka.

“Karena kepala sekolah kedepan kan tidak bisa diangkat sembarangan. Kalau sistem sekarang ini sudah sesuai, karena ada seleksi begini kita jadi tau oh ini yang harus dipenuhi jadi kepala sekolah. Karena walaupun kita kerja di sekolah tapi selama ini kita tidak tau prosesnya jadi kepala sekolah seperti apa, menejemen juga kita belum paham,” ungkapnya.

“Ini sudah tepat sasaran karena dalam tes itu kita ditanya mau jadi kepala sekolah itu seperti apa. Kami yang belum pernah merasakan bagaiman menjadi seorang pemimpin itu jadi bisa tahu. Syarat juga berat mulai pemberkasan, pendidikan, sertifikasi. Kemungkinan ada yang lulus ada yang tidak. Karena serifikasi dan pendidikan itu syarat mutlak. Walaupun golongan sudah tinggi tapi belum sertifikasi itu tidak bisa ikut tes calon kepsek, yang beratnya disitu”, tambah ibu guru berusia 41 tahun tersebut.

Senada diungkapkan Hamdan guru SD 002 Penyinggahan kecamatan Penyinggahan, Kutai Barat. Menurutnya sudah tepat diadakan seleksi terbuka agar benar-benar terpilih calon kepsek yang berkualitas.

“Sangat tepat, supaya kompetensi kepsek itu bisa meningkat kalau diseleksi seperti ini”, katanya.

Supriyanto dosen pengajar Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang jadi salah satu asesor mengatakan syarat utama seorang kepala sekolah adalah memiliki kompetensi yang baik. Dengan adanya seleksi katanya bisa menghilangkan praktik nepotisme dalam dunia pendidikan.

“Kalau dulu ada anekdot bahwa yang memimpin itu tidak harus punya potensi tapi siapa yang dekat dengan pejabat. Sekarang kan harus berdasarkan potensi yang ada supaya betul-betul kepala itu the right man on the right place artinya orang yang tepat ditempatkan di posisi yang tepat”, jelasnya.

“Jadi kalau yang memimpin tidak punya potensi sebaiknya jangan jadi kepala sekolah. Potensi juga tidak akan bermanfaat kalau tidak diasah. Diharapkan nanti para kepala sekolah menjadi manager yang profesional di sekolahnya”, tutup Supriyanto.

Diketahui dalam seleksi itu terdiri dari tes tertulis dan wawancara. Jika lolos mereka akan mengikuti diklat selama 3 bulan untuk memperkuat kompetensi kepsek.

Sementara data Disdikbud Kubar menyebutkan ada 265 kepala sekolah se-Kubar yang akan diikutkan dalam seleksi tahap berikutnya. Terdiri dari 59 Kepsek SMP dan 206 SD.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00