• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

INFO MASYARAKAT

Tanggung Jawab Sosial, Komunitas Ini Rutin Sosialisasi Mitigasi Bencana

18 September
07:30 2019
1 Votes (5)

KBRN, Cilacap : Logo Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  memuat gambar segitiga sebagai manifestasi tiga pihak dalam upaya penanggulangan bencana.

Ketiganya adalah pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Artinya upaya penanggulangan dan pengurangan resiko bencana menjadi tanggung jawab semua pihak tidak hanya mengandalkan salah satunya.

Satria Nusakambangan Team (SNT) Cilacap, sebuah komunitas yang di dalamnya merupakan mahasiswa asal Cilacap yang berkuliah di Purwokerto memahami tiga pilar penanggulangan bencana itu sehingga merasa perlu dan terpanggil menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana.

Ketua SNT Cilacap Mohammad Hanadzil menyadari bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun semua pihak termasuk masyarakat.

“SNT hadir dalam upaya mitigasi bencana karena diakui dari beberapa sejarah  sebuah bencana mampu merontokkan peradaban, meruntuhkan pertahanan keamanan bahkan perekonomian. Sehingga SNT berupaya bersama pemerintah dan kelompok lain ikut berpartisipasi mengubah paradigma kebencanaan dari sebelumnya menghadapi bencana menjadi mengurangi resiko bencana” jelas Hanadzil, Rabu (18/9/2019).

Hanadzil menyebut mitigasi bencana sebenarnya sudah diawali dari hal kecil di tingkatan anggota komunitas dengan prinsip jika tidak bisa berbuat baik minimal jangan merusak lingkungan.

“Maka seperti sudah menjadi sebuah reflek atau gerak otomatis ketika berkunjung ke sebuah tempat yang tandus tumbuh kesadaran menanam minimal satu pohon atau jika menemukan sampah tanpa segan dan canggung langsung dipungut” ujarnya.

Dalam tataran lebih terorganisir, lanjut dia menggandeng  BPBD Cilacap, BMKG maupun pihak lain melakukan sosialisasi kebencanaan di masjid musholla sekolah dan basis masyarakat lain.

“Diantaranya di Kelurahan Tritih Kulon Kecamatan Cilacap Utara, Desa Menganti Kecamatan Kesugihan, Kelompok Remaja Masjid di Jalan Anggrek, Kelurahan Sidakaya , Kecamatan Cilacap Selatan, kerjasama dengan perguruan tinggi dengan menghadirkan pakar tsunami dari LIPI hingga agenda terdekat adalah sosialsiasi di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan pada 19 September nanti” tandasnya.

Semua itu, kata dia  bermuara pada tujuan agar masyarakat mempelajari dan paham resiko bencana,  mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi dan pasca bencana, hingga mengingatkan kembali piranti kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan salah satunya kentongan titir.

Lebih jauh Hanazil menyatakan terlepas dari isu megathrust yang sempat membuat heboh masyarakat dan kenyataan Cilacap berada pada zona resiko tinggi bencana, sosialsiasi kebencanaan menjadi agenda rutin aksi kemanusiaansebagai salah satu jiwa komunitas SNT.

Pada akhirnya Hanadzil mengingatkan masayakat agar saat terjadi bencana tidak menjadi pihak yang ikut mengacaukan suasana dengan menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya, selalu waspada meski tidak lantas takut.

“Kepada pemerintah kami berharap ada regulasi semacam Perda tentang penggunaan garis pantai yang sebaiknya tidak untuk permukiman maupun industri Nasional melainkan untuk sabuk hijau. Kalaupun diperuntukkkan industri lebih pada industri wisata dan edukasi” imbuhnya.

Sementara itu komunitas SNT Cilacap terbilang masih sangat muda usianya baru dibentuk pada 19 Januari 2018.

Humas SNT Faisol Mahmud menyebutkan pembentukan ini berawal dari keresahan sejumlah mahasiswa Cilacap yang menempuh studi di Purwokerto dengan kenyataan beberapa tempat wisata alam dan lingkungan yang kotor.

“Di sisi lain sikap abai dari masyarakat sekitar membuat miris sehingga SNT kemudian memilih bergerak daripada sekedar mengumpat, beraksi daripada mengutuk tanpa henti” katanya.

Ada 3 kata yang menjadi prinsip kegiatan SNT Cilacap yakni Love, Humanity, and Pray.

Love menciptakan harmoni dengan mencintai lingkungan dan sesama umat manusia, Humanity mengedepankan nilai kemanusiaan tanpa memandang suku, ras, agama maupun status sosial dan politik serta menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia yang beradab, dan  Pray mencerminkan toleransi dan kerukunan umat baik kepercayaan maupun umat beragama dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika” ungkapnya.

Faisol berharap ke depan SNT semakin sadar dan peka terhadap lingkunan sekitar menciptakan harmonisasi antar umat beragama dan mencintai lingkungan.

 

  • Tentang Penulis

    Shandy Windu

    <p>KONTRIBUTOR BERITA DAERAH CILACAP</p><p> </p>

  • Tentang Editor

    Shandy Windu

    <p>KONTRIBUTOR BERITA DAERAH CILACAP</p><p> </p>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00