• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

BANYUMAS

Mimpi Tati Sri Rahmawati Jadi Dokter Gigi Terwujud

17 September
15:31 2019
0 Votes (0)

KBRN, Purwokerto: Satu dari 1.923 Wisudawan Univeristas Jenderal (Unsoed) yang dikukuhkan sebagai Sarjana, Selasa (17/9) yaitu Tati Sri Rahmawati terlahir sebagai anak sulung dari 4 bersudara yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana di Ciamis pada 7 Maret 1993.

Ayahnya hanya seorang kernet bis yang bekerja di luar kota, dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Meskipun anak dari seorang kernet bis, Tati tidak pernah merasa minder, justru ia memiliki cita-cita yang sangat besar untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi.

Harapannya hanya satu dapat mengangkat derajat orang tua dan mampu membantu menyekolahkan adik-adiknya setinggi mungkin.

Segala impian yang Tati bangun sejak kecil akhirnya dapat terwujud, Tati dapat masuk Universitas Jenderal Soedirman tahun 2011 melalui jalur Undangan atau SNMPTN. Dia diterima sebagai mahasiswa bisikmisi di S1 Jurusan Pendidikan Dokter Gigi.

"Awalnya orang tua saya ragu dan khawatir tidak mampu membiayai kebutuhan kuliah saya. Tapi berkat dukungan dari semua pihak, kami percaya Tuhan pasti akan memberikan rejeki dan optimis bisa menjalani semuanya sampai akhir”, ungkapnya.

Selama mengenyam pendidikan dokter gigi ada satu pelajaran sederhana yang didapat. Pada awalnya Tati menganggap Pendidikan Dokter Gigi itu merupakan pendidikan kedokteran yang tidak terlalu rumit karena hanya sebatas anatomi kepala saja.

Jika dilihat dari biayanyapun sepertinya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Kedokteran Umum. Ternyata salah besar Pendidikan Dokter Gigi adalah pendidikan yang memadukan antara Ilmu kedokteran (doctor), teknik (engineering) dan seni (artist) yang jika digabungkan menjadi dentist. Dari si ia belajar bahwa tidak ada satupun jurusan pendidikan yang boleh disepelekan.

Tati menyelesaikan S1 Pendidkian Dokter Gigi pada tahun 2016, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Profesi Dokter Gigi (koas) di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UNSOED.

Mahasiswa koas dituntut untuk mampu melakukan pemeriksaan, menegakan diagnosa, sampai memberikan perawatan  bagi pasien, di bawah naungan dosen supervisor.

Tati harus menyelesaikan requirement kasus yang jumlahnya mencapai seratus kasus lebih. Kesulitan yang dihadapi adalah masyarakat enggan untuk dirawat oleh mahasiswa koas karena takut menjadi kelinci percobaan, kurangnya kesadaran masyarakat, serta ketidakmampuan masyarakat memenuhi biaya perawatan gigi dan mulut.

“Untuk melancarkan proses pendidikan profesi ini kami membantu pasien untuk pembiayaan perawatan, Kami berprinsip untuk saling membantu, Kami membantu untuk kesehatan pasien dan pasien membantu Kami dalam proses pendidikan profesi”, terang Tati.

Semua proses ini tentunya memakan waktu yang cukup lama, tenaga, dan biaya yang sangat besar. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan selama hidup yaitu ketika upah bapaknya sebagai kernet bis tidak mampu lagi memenuhi besarnya biaya kuliah.

Orangtuanya tidak memiliki pilihan lain selain menjual tanah yang dimiliki, perlahan kebun dan sawah yang dimiliki menjadi milik orang lain. Hati Tati menjerit betapa orangtuanya berjuang mati-matian untuk Tati.

Keadaan ini menjadi cambuk baginya ketika mulai lelah atau menyerah. Tatipun berfikir bagaimana caranya bertahan di perantauan dan bisa meringankan biaya kuliah.

Sejak 2013 ia mulai menjual basreng dan makaroni yang dibuatkan ibunya di rumah, dia menjualnya ke teman-teman di kampus. Selain itu ia juga membuat pesanan bunga flanel untuk wisuda, ngajar les privat anak SD, menjadi asisten di klinik, bahkan sampai pernah membuka londrian di kontrakan untuk teman-temannya.

Sungguh tidak ada proses yang menghianati hasil, pada Agustus 2019 Tati dinyatakan lulus ujian kompetensi oleh Kolegium Dokter Gigi Indonesia.

Tati telah melaksanakan Sumpah Dokter Gigi pada Senin 16 September 2019 dan mengikuti wisuda ke 134.

Setelah lulus ini Tati akan mendedikasikan ilmu yang didapat untuk menjadi dokter gigi puskesmas dan Tati juga berkeinginan membuka klinik sendiri. 

Tati juga memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan spesialis maupun S2. Tati sangat berterimakash kepada Bidikmisi Indonesia dan almamater Unsoed yang sudah membantu mewujudkan cita-cita besarnya.

Pesan Tati untuk Bidikmisi Indonesia tetaplah perjuangkan hak-hak putra daerah yang memiliki cita-cita dan semngat yang besar. Kepada Unsoed tetaplah  menjadi kampus yang ramah untuk rakyat kecil.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00