• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

BANYUMAS

Hibah Sampah , Wujudkan Kotaku

15 September
08:45 2019
0 Votes (0)

KBRN, Purwokerto: Kekumuhan pada umumnya identik dengan kondisi kemiskinan dan ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan hidupnya.

Upaya pengentasan pemukiman kumuh membutuhkan pembiayaan dan pembiasaan pola kehidupan masyarakat untuk peduli terhadap kondisi lingkungan. Oleh karena itu pencapaian program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbeda, tidak hanya mengerahkan sumber daya pada satu sektor saja melainkan harus melibatkan sebanyak mungkin pelaku dan sektor baik vertikal maupun horizontal melalui platform “Kolaborasi”.

Demikian yang dilakukan oleh tim dosen yang terdiri dari Dra. Dijan Rahajuni, MSi, Dr. Lilis Siti Badriah, SE, Msi dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Etik Wukir Tini, SP, MP  dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bekerja sama dengan Pemerintahan Kelurahan Kedungwuluh, kecamatan Purwokerto dalam Peningkatan Nilai Ekonomi Pekarangan Sebagai Alternatif Mewujudkan Kota Tanpa Kumuh dan Meningkatan Pendapatan Masyarakat melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) adalah merupakan salah satu Program Pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019 pada sektor perumahan dan permukiman yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, yaitu 100-0-100. Artinya tercapainya 100% pelayanan air minum bagi seluruh penduduk Indonesia,  pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 ha, dan meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi layak menjadi 100% pada tingkat kebutuhan dasar hingga tahun 2019.

Menurut Dijan Rahajuni Perguruan tinggi melalui kegiatan Tri Darma Peguruan yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat ikut berperan serta untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional.

Disamping itu kepemilikan lahan pekarangan yang sempit dan terbatas di wilayah perkotaan memerlukan penangan tersendiri untuk mengeksplorasi pemanfaatannya. 

"Melalui kegiatan sosialisasi pemanfaatan limbah, pemanfaatan pekarangan, dan Focus disscustion group (FGD) masyarakat mencoba untuk memulai kegiatan penataan dan pemanfaatan lingkungan untuk mengurangi kekumuhan," katanya Minggu (15/9/2019).

Pekarangan yang dimaksudkan adalah lahan kosong yang ada disekitar rumah, dipilih sebagai sasaran obyek pengabdian karena pada umumnya kekumuhan terlihat dari kondisi rumah dan sekitarnya.

 "Sebenarnya pekarangan adalah merupakan sebagian dari potensi sumber daya alam yang potensial untuk dieksplorasi guna meningkatkan nilai ekonominya dan pendapatan masyarakat."kata Dijan.

Menurutnya berkat dukungan penuh dari Kelurahan Kedungwuluh kecamatan Purwokerto Barat dan Tim Penggerak PKK malakukan kegiatan penataan lingkungan baik yang berkaitan dengan pengelolaan sampah maupun pemanfaatan pekarangan mendapatkan apresiasi dari Tim Penggerak PKK kabupaten Banyumas  dalam lomba pengelolaan sampah organik dan an organik dengan kategori nilai tertinggi dan lomba pemanfaatan tanah pekarangan dan hatinya PKK  dengan kategori nilai tertinggi kedua.

Sistem pemanfaatan pekarang yang dilakukan adalah dengan cara memanfaatkan lahan kosong yang tidak digunakan pada lahan milik sendiri dan pada lahan kosong yang tidak dimanfaatkan melalui sistem musyawarah dan kesepakatan bersama antar anggota masyarakat sepanjang tidak mengganggu kepentingan umum. 

"Tehnik pemanfaatan dilakukan melalui sistem kebun bersama dan manfaatnya yakni penanaman tradisional pada tanah, memakai polybag, dan dengan cara vertikultur pada setiap tempat yang memungkinkan, dengan jenis tanaman sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan, dan dipadukan dengan memelihara ikan yang disebut dengan budi daya ikan dalam ember (Budikdamber)," katanya.
 
Dari hasil kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat juga mampu mendatangkan manfaat ekonomi dan non ekonomi. Bahkan pada pengelolaan sampah dapat memunculkan model pengelolaan sampah dalam bentuk “Hibah Sampah”. 

Dalam hibah itu,  sampah-sampah warga dipilah oleh masing-masing warga secara mandiri, kemudian dihibahkan kepada kelompok keswadayaan masyarakat yang dibentuk oleh masyarakat sendiri.

"Dengan sistem ini dapat mengurangi timbunan sampah an organik di rumah tangga dan tempat pembuangan sampah awal sehingga mengurangi kekumuhan, meningkatkan kemandirian keuangan kelompok dan aktivitas kelompok, mendidik generasi muda untuk mencintai kebersihan lingkungan, mengurangi timbunan dan memperpanjang masa pemakaian tempat pembuangan akhir, secara keberlanjutan akan mendukung pembangunan berkelanjutan,"katanya. 

"Untuk itu sangat diperlukan kolaborasi dan kominten berbagai pihak untuk dapat memberdayakan masyarakat sebagai penerima manfaat untuk responsif dalam program melalui sistem reward dan apabila sudah membudaya maka dapat lakukan sistem punishment."katanya.(spj)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00