• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

PURBALINGGA

Tim JKPT Menemukan Bleng Mengandung Boraks

23 August
18:55 2019
0 Votes (0)

KBRN. Purbalingga: Tim Jejaring Keamanan Pangan Terpadu (JKPT) Kabupaten Purbalingga menemukan garam bleng yang positif mengandung boraks di Pasar Bobotsari dan Pasar Padamara. Hal ini diketahui ketika tim berkeliling melakukan monitoring keamanan pangan di Pasar Bobotsari dan Pasar Padamara.

Samsul Hidayat, salah satu anggota tim JKPT Purbalingga dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga mengatakan bleng memang sudah mulai jarang beredar bahkan beberapa pedagang yang dulunya menjual saat ini sudah tidak menjual lagi. Namun, ternyata masih dijumpai kembali pedagang yang menjual bleng tersebut pada masyarakat.

Penemuan ini disinyalir karena masih banyaknya konsumenyang mencari garam bleng sebagai bahan campuran pembuatan kerupuk. Menurutnya, kerupuk yang diberikan tambahan berupa garam bleng memiliki tekstur yang renyah namun dari segi rasa terasa getir pahit.

“Terkait dengan penggunaan boraks pada bleng itu memang cukup sulit untuk diidentifikasi,” kata Samsul seusai melakukan pemeriksaan sampel makanan di Pasar Padamara, Jumat (23/8/2019).

Namun, ia menjelaskan sebenarnya ada cara mudah bagi masyarakat untuk mengidentifikasi adanya boraks pada bleng. Metode yang digunakan salah satunya menggunakan alat yang paling sederhana yakni dnegan tusuk gigi yang dilumuri dengan kunyit.

“Di sana itu senyawa di kunyit akan bereaksi dengan boraks yang akan menghasilkan warna pada kunyitnya itu lebih kuat jadi berubah warna, itu cara pengujian yang paling sederhana,” ujarnya.

Adapun cara yang lebih pasti untuk memastikan adanya kandungan boraks pada bleng yakni dengan uji laboratorium. Bleng yang murni sebenarnya tidak ada tambahan boraks, namun untuk menghasilkan hasil yang lebih renyah dan tahan lama kemudian banyak yang mencampuri dengan boraks.

“Sebenarnya ditambahi dengan menggunakan natrium benzoate atau pengawet yang diizinkan oleh badan POM dalam kadar tertentu tidak menjadi masalah,” terang Samsul.

Kadar boraks yang terlalu banyak tentunya apabila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan manusia. Terlebih, boraks merupakan pengawet yang biasanya digunakan untuk mengawetkan kayu bahkan dicampuri dengan formalin untuk mengawetkan mayat.

“Tentu ini akan sangat membahayakan dan bisa menyebabkan kanker pada tubuh manusia yang mengkonsumsinya,” jelasnya.

Ketika garam bleng yang mengandung boraks ini sudah bercampur dengan bahan makanan atau bahan pembuat kerupuk maka akan sulit diidentifikasi menggunakan metode sederhana. Untuk mengetahui kadar boraks yang terkandung dalam kerupuk maka harus menggunakan uji laboratorium.

“Kalau untuk membuktikan adanya penggunaan boraks pada kerupuk yang sudah matang harus uji lab karena kalau sudah matang itu sudah tercampur dengan minyak dan lain-lain sehingga untuk identifikasi tidak cukup menggunakan tusuk gigi yang dilumuri kunyit,” ujar Samsul.

Adanya penemuan bleng yang mengandung boraks ini Tim JKPT melakukan pembinaan langsung ke penjual agar tidak menjual barang tersebut. Adapun untuk langkah hukumnya, ia menjelaskan menjadi ranah pengegak hukum untuk menindak tegas hingga melakukan penyitaan barang tersebut.

“Saat ini kita belum ada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sehingga tidak bisa mengarah ke penyitaan, hanya sebatas pembinaan, pengawasan makanan ini kan rutin dilakukan, setelah ada temuan nanti kita akan berikan penyuluhan dengan pihak-pihak terkait,” pungkasnya.(spj)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00