• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

BANYUMAS

Isu Luapan Lava Gunung Slamet, Masyarakat Tetap Tenang

21 August
15:48 2019
1 Votes (3)

KBRN, Purwokerto: Sejak statusnya ditetapkan menjadi status waspada pada 9 Agustus lalu sampai hari ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten  Banyumas telah mendeteksi Kawasan Resiko Bencana (KRB) Gunung Slamet di tiga Kecamatan dan sembilan Desa.

Ketiga Kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Kedung Banteng, Kecamatan Baturraden, dan Kecamatan Sumbang.

Kepala Seksi pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyumas Catur Hari Susilo mengatakan, sebagian wilayah Gunung Slamet itu ada diwilayah Kabupaten Banyumas, sehingga Banyumas punya ancaman itu.

"KRB Gunung api Slamet di Kabupaten Banyumas ada di 3 kecamatan dan 9 desa, kecamatan kedungbanten, baturraden, dan sumbang, dan sesuai dengan standar operasional himbauan dari pusat vulkanologi dan mitigasi bencana gunung api di Bandung bahwa pada saat level waspada itu yang harus steril atau yang tidak ada aktivitas sama sekali itu adalah radius 2 km dari puncak gunung,"ungkapnya di Purwokerto, Rabu (21/8/2019).

Dia juga menjelaskan, untuk diluar radius 2 km agar masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa, tidak usah resah, tidak usah gelisah karena aktivitas gunung terpantau selalu.

"Kalau gunung mau meletus pasti sudah terdeteksi karena tahapan itu, yang penting diluar radius 2 km itu pertama meningkatkan kewaspadaan, dan tetap mengikuti informasi dan petunjuk dari pemerintah. Kedua, jangan terpancing dengan isu-isu adanya leleran larva dan sebagainya tanpa informasi dari pemerintah kita",  terang Catur Hari Susilo.

Sementara itu, Kepala Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang Darko mengungkapkan,  Desanya yang juga masuk KRB itu, semua wilayahnya merupakan daerah yang rawan.

"Kalau untuk mencari titik rawan di Desa Limpakuwus, itu semua termasuk wilayah Limpakuwus, bahkan mungkin bisa sampai lebih dari wilayah Limpakuwus dan bahkan sampai ke Kotayasa”, katanya.

Menurut dia, beberapa sosialiasi dan edukasi juga telah dilakukan kepada masyarakat jika terjadi erupsi.

"Ya kemarin juga sudah dilaksanakan simulasi apabila terjadi erupsi di Gunung Slamet dan itu sudah beberapa kali  dilaksanain, dan itu dimotori langsung oleh FPRB", ujar Darko.

Sedangkan salah satu warga Desa Limpakuwus, Sutri, mengatakan, dirinya tidak tahu kalau status level Gunung Slamet dinaikkan menjadi waspada.

"Kalau untuk statusnya itu saya tidak tahu, apalagi kemarin saya juga tidak pernah ikut pelatihan, tapi nanti katanya kalau terjadi erupsi katanya disuruh ngumpul di Lapangan”, ungkapnya.

Namun dia berharap, kalau ada hal bencana sebaiknya dikoordinir dengan baik, sehingga seluruh masyarakat bisa mengetahui informasinya dengan jelas dan akurat.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00