• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Video Podcast

RRI Radio 'Bencana'

8 August
07:22 2019

KBRN, Surakarta: Indonesia disebut sebagai supermarket dan juga laboratorium bencana. Sebagian besar masyarakat Indonesia juga tinggal di kawasan cicin api (ring of fire). 

Namun tidak banyak yang paham tentang kondisi demikian. Manakala terjadi gempa masyarakat panik dan tak tahu cara penyelamatan diri. 

Direktur Program dan Produksi LPP RRI Solaiman Yusuf menyatakan, sebagai media terpercaya, RRI harus menyelamatkan masyarakat. Salahsatunya dengan memberikan edukasi terus-menerus hingga membudaya.

"Seluruh kawasan nusantara ini ada ring of fire. Masyarakat harus diberikan edukasi terus-menerus  sampai ada perubahan perilaku dan menjadi culture. Kita mesti bisa menjaga alam, maka alam akan menjaga kita," tandas Solaiman disela rakor mitigasi bencana RRI dengan program Kentongan di Sunan Hotel Solo, Rabu (7/8/201).

Data yang disampaikan BMKG 2018 terjadi 11 ribu guncangan gempa. Diprediksi frekuensinya akan terus meningkat. Kondisi demikian memantik RRI untuk membuat suatu program siaran kebencanaan, sebagai alat edukasi secara masif.

"Sebenarnya pengertian radio kebencanaan itu bukan saja bencana alam, gunung meletus gempa bumi, tsunami dan sebagainya. Tapi juga bencana-bencana lain yang disebabkan ulah manusia," sambung Solaiman.

Pemanfaatan bungkus plastik sekali pakai berlebihan juga menimbulkan bencana. Karena menyebabkan sampah menumpuk di sungai, susah di daur ulang hingga menimbulkan pencemarana laut. Termasuk polusi udara di kota besar dan kebakaran hutan menjadi perhatian RRI.

"Kita harus memberikan edukasi kepada masyarakat. Belajar dari pengalaman," ungkapnya.

Salah satu misi RRI sebagai radio 'bencana' yakni menjadi telangke stakeholder. Seperti BMKG, BNPB, Badan Vulkanologi, Basarnas dan semua pihak yang berkaitan dengan soal kebencanaan. Termasuk lembaga swadaya masyarakat untuk bersama-sama memberikan sumbangsihnya soal kebencanaan. 

"Beberapa stakeholder sudah mengikat kerjasama dengan kita, BNPB, BMKG dan Basarnas dalam program Kentongan ini," ujarnya.

Dia menyampaikan, sudah banyak terbukti ketika jadi gempa, listrik padam, hubungan komunikasi tidak lancar, maka radio dengan baterai sebagai solusi yang nyata. Seperti di Lombok terjadi gempa atau di Palu, masyarakat dapat mendapatkan informasi melalui siaran RRI.

"Disaat hampir semua teknologi canggih tidak bisa berfungsi, RRI masih eksis memberikan informasi," tandasnya.

Namun demikian ia sadar, mengedukasi dan menyadarkan masyarakat bukan perkara mudah. Tak hanya satu-dua bulan untuk merubah karakter dan sikap. Dalam menyiapkan masyarakat yang tangguh bencana butuh proses panjang.

"Tapi kami optimistis, dengan jaringan RRI di Indonesia, 230 programa Pro 1, Pro 2, Pro 4, Pro 3 nasional saya kira ini akan bisa tercapai. Mitigasi Bencana Kentongan ini bukan milik kita saja tapi menjadi milik semua pihak yang peduli soal bencana."

Pelaksana harian Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo mengapresiasi langkah RRI untuk menyiapkan masyarakat tangguh bencana. Program kentongan RRI sangat membantu BNPB dalam mitigasi bencana. 

"Makannya program ini harus disebarluaskan kepada seluruh masyarakat. Agar mereka paham tentang bencana itu, sehingga tujuan utamanya menekan angka korban meninggal dunia bisa terwujud." (Mulato Isha'an, PRO 3 RRI Surakarta)

Tentang Penulis

Mulato Isha'an

Mulato Isha'an RRI Surakarta<br />

00:00:00 / 00:00:00