• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Code Of Conduct Laut China Selatan

15 April
07:30 2017
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta :  Tidak dapat dipungkiri, Laut China Selatan telah menjadi sumber ketegangan baru. Meski “tensi” ketegangan tersebut akhir-akhir ini ada kecenderungan menurun, namun sebenarnya permaslahan Laut China Selatan masih jauh dari penyelesaian. Ada sejumlah negara yang memiliki kepentingan dan berbatasan langsung dengan wilayah tersebut, sempat bersitegang dengan Tiongkok.  Saling klaim wilayah tidak terelakan, bahkan sudah sampai pada Mahkamah Arbitase Internasional.  Namun keputusan Mahkamah Arbitase Internasional tetap saja tidak menyelesaikan masalah.

Dalam kondisi seperti ini, hadirnya kekuatan-kekuatan non regional sulit dicegah. Dengan dalih keseimbangan, sangat mungkin muncul negeri yang tidak terlibat langsung di luar kawasan, untuk ikut menyelesaikan persoalan. Tidak menutup kemungkinan kehadiran mereka dapat menjadi penengah. Tetapi, bukan tidak mungkin juga ada agenda tersembunyi yang terkait dengan kepentingan ekonomi dan politik internasionalnya, yang nanti justru akan semakin memperuncing situasi. Di sinilah Peran ASEAN perlu ditingkatkan untuk menyesaikan konflik  Laut China Selatan.

Kini, disaat tensi ketegangan tersebut menurun,  muncul keinginan untuk mewujudkan lahirnya sebuah “Code of Conduct” tentang Laut China Selatan. Sebenarnya Code of Conduct ini sudah dibahas bersama antara negara Asean dengan Tiongkok sejak satu dekade terakhir. Namun belum ada tanda tanda untuk diwujudkan dalam sebuah Dokumen Bersama. Di sinilah Indonesia dapat berperan lebih aktif untuk mendorong lahirnya sebuah Code of Conduct Laut China Selatan.  Indonesia sangat berkepentingan, disamping karena Indonesia sendiri pernah mengalami konflik dengan Tiongkok di sekitar Natuna, perselisihan di Laut Cina Selatan akan sangat mempengaruhi keamanan kawasan secara keseluruhan.
 
Stabilitas keamanan kawasan perlu dijaga bersama-sama. Kebersamaan negara-negara anggota ASEAN merupakan modal untuk membawa masalah itu tidak melebar, atau membuat pihak yang yang tidak terlibat langsung ikut memperkeruh suasana. Perundingan-perundingan dengan Republik Rakyat Tiongkok, termasuk mewujudkan sebuah Code Of Conduct, merupakan langkah yang ideal, mengingat keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional tidak menyelesaikan konflik dan ketegangan di Laut China Selatan. Sesuai yang tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, kita memang harus mewujudkan perdamaian dunia dan tidak menginginkan perang terjadi.

Harapan kita, semua pihak yang terlibat dalam konflik Laut China Selatan menahan diri,  agar stabilitas kawasan tetap terjaga. Goncangan terhadap stabilitas regional tentu bakal memberi dampak negatif yang luas bagi seluruh umat manusia. Sebaliknya terciptanya kestabilan dan perdamaian di wilayah Laut China Selatan, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Asia lebih baik ketimbang kawasan lain. Kita meyakini konflik terbuka bukan opsi yang baik bagi kita semua. Karena itulah kita harus lebih aktif  mendukung penyelesaian sengketa melalui jalan damai. Salah satunya dengan mewujudkan Code Of Conduct yang dapat menjadi rujukan dan pedoman perilaku bersama, negara-negara yang selama ini terlibat konflik Laut China Selatan.




*Sumber Foto : Google*

Tentang Penulis

Danang Prabowo

Redaktur senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00