• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

BI Waspadai Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral AS

15 March
07:07 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat yang sedang berlangsung saat ini  memberi sinyal terjadinya kenaikan suku bunga acuannya.

Namun, diperkirakan The Fed tidak  akan secara ekstrem menaikkan suku bunganya, walaupun desakan Presiden Donald Trump untuk menaikkan suku bunga 0,25 persen lebih dari 100 basis poin, karena  visi The Fed sebagai Bank sentral sangat independen dari tekanan pemerintah.


Apapun keputusan Bank Sentral Amerika Serikat selalu menjadi perhatian pelaku pasar dan Bank Sentral negara-negara di dunia, karena Bank Sentral Amerika Serikat biasanya akan merilis kebijakan moneter serta proyeksi dan data perekonomian AS terkini.


Bagaimana antisipasi Bank Indonesia (BI) terkait hal tersebut?


Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menyatakan, Bank Indonesia  terus menyimak dan mewaspadai perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat.

Amerika Serikat sudah mencapai tingkat inflasi sesuai rencana dan proyeksi, bahkan tingkat inflasinya sudah di atas target  dua persen.

Bank Indonesia  juga menyimak perkembangan ketenagakerjaan atau employment di Amerika Serikat dengan perkembangannya menunjukkan kondisi yang baik. Oleh sebab itu,  hampir  dipastikan Bank Sentral Amerika Serikat akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada bulan Maret ini.

Kenaikan  suku bunga bank sentral AS sepanjang tahun 2017 ini diproyeksikan bukan hanya dua kali, tetapi bisa berlangsung tiga kali kenaikan suku bunga.

Dampak dari  kenaikan suku bunga bank Sentral Amerika Serikat adalah menguatnya dollar, sehingga mata uang dunia termasuk rupiah akan mengalami tekanan.

Namun, kita yakin  perekonomian Indonesia dapat menahan dampak kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, karena  secara umum kondisi perekonomian Indonesia saat ini cukup kuat.

Hal ini dapat kita lihat   dari indikasi inflasi,  neraca perdagangan,  neraca pembayaran  dan cadangan devisa yang meningkat menjadi 119, 9 miliar dollar AS pada akhir bulan Februari ini.

Cadangan  devisa Indonesia saat ini  mampu mendukung ketahanan sektor eksternal  dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Tentang adanya kekhawatiran melemahnya nilai tukar rupiah terhadap  dollar  AS, maka Bank Indonesia telah memastikan siap untuk melakukan intervensi  untuk  menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil.

Kita yakin bahwa kenaikan suku bunga acuan The Fed  tidak akan memberi dampak yang membahayakan bagi perekonomian Indonesia.

Sebab, berdasarkan kajian yang dilakukan, perekonomian Indonesia dalam keadaan terjaga. Stabilitas pun terjaga dan ada kecenderungan pertumbuhan ekonomi nasional yang membaik tetap pada kisaran 5,1 persen.

Dampak  kenaikan bisa ditangkal jika pemerintah mampu menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih berkualitas.

Kita harus  tetap  optimistis bahwa  kondisi perekonomian Indonesia akan semakin membaik tahun ini, karena  proses pemulihan ekonomi masih akan terus berlangsung tahun ini.

Indonesia  dari sisi fiskalnya juga semakin kuat, kredibel dan transmisi kebijakan moneternya masih terus berlangsung secara berkesinambungan.

Faktor  utama yang membuat optimistis terhadap perekonomian Indonesia tahun ini adalah konsumsi masyarakat diprediksi akan lebih dari 50 persen.

Investasi  dari pemerintah maupun pihak swasta juga menjadi salah satu faktor pendorong lain yang mendukung pertumbuhan ekonomi.








*Sumber Foto : Google*




Tentang Penulis

Ida Bagus Alit Wiratmaja

Redaktur Senior

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00