• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Menyoroti konflik di Partai Hanura

20 December
07:22 2019

KBRN, Jakarta : Kata orang bijak, siapa menebar angin ia akan menuai badai. Pepatah tersebut layak diibaratkan kepada Pendiri Partai Hanura, Jenderal TNI Purnawirawan Wiranto.

Dalam pengakuannya belum lama ini di Jakarta, Wiranto menyebut dirinya yang mengupayakan Oesman Sapta Odang menjadi ketua Umum Partai Hanura menggantikan dirinya. Belakangan, Wiranto mengakui, bahwa penunjukkan Oesman Sapta Odang adalah satu kesalahan Dirinya terhadap Partai Hanura.

Kini bahkan Wiranto tidak lagi menjadi bagian mainstream dalam Kepengurusan Partai Hanura di bawah kepemimpinan Oesman Sapta Odang. Akhir nasib pendiri Partai Hanura yang tersingkir dari Partai yang didirikannya sendiri.

Tentu saja banyak orang prihatin atas konflik internal Partai Hanura. Akan tetapi faktanya konflik itu terjadi.

Sesungguhnya, bila melihat apa yang ada, itu murni antara kepentingan orang-orang yang ada di dalam Partai Hanura sendiri. Akan tetapi dalam perspektif yang lebih luas, sangat merugikan bagi kehidupan politik secara luas di tanah air. Mungkin bisa jadi, daripada berkonflik dan menampakkan berbagai keburukan di hadapan publik, maka lebih baik, pihak yang berseberangan mendirikan partai baru.

Nanti tinggal dibuktikan, partai mana yang mampu meraih simpati rakyat. Seperti misalnya Wiranto yang berasal dari Partai Golkar, karena berseberangan pandangan, lalu mendirikan Partai Hanura. Itu lebih elegan. Tinggal dilihat, mana yang lebih eksis sekarang, Partai Golkar atau Partai Hanura.

Hal ini juga pernah terjadi dulu, di dalam tubuh Partai Persatuan pembangunan, hingga muncul Partai Bintang Reformasi. Maknanya, banyak pihak berharap, partai Politik adalah yang turut memghasilkan kader kepemimpinan nasional serta juga kebijakan nasional. Sehingga, para pimpinan partai tidak menimbulkan kegaduhan dalam internal mereka.

Partai Hanura, dihatapkan mampu menyelesaikan maslaahnya, dan antara Pihak Wiranto maupun Osman Sapta, tidak mempertontonkan aib masing-masing melalui media massa. Kedewasaan seseorang dalam berpolitik akan ditunjukkan dengan menutup aib saudaranya di muka publik.
Demikian komentar.

Tentang Penulis

Afrizal Aziz

Redaktur Pro 3 RRI

00:00:00 / 00:00:00