• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Kisruh Putusan Mahkamah Agung Soal Penyitaan Aset First Travel dan Tidak Dikembalikan ke Para Korban

26 November
09:07 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Para korban usaha jasa umroh bermasalah, Fisrt Travel memang harus gigit jari meratapi nasibnya. Selain menjadi korban dari pengusaha umroh Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, para korban juga menjadi korban sistem hukum yang ada di negerinya sendiri, yakni Indonesia. 

Memang aneh juga sistem hukum di negeri ini, yang menjadi korban adalah rakyat, tapi rakyatnya tidak dipedulikan. anggaplah apa yang diputus oleh Hakim Andi Samsan Nganro sudah sesuai kaidah hukum, maka jelas putusan tersebut merugikan korban jemaah First Travel. 

Tapi hakim juga sudah sesuai dengan sistem hukum yang ada. Kendati kemudian ada anggapan salah penerapan hukum, yakni dari kasus penggelapan uang menjadi pencucian uang, maka tetap saja, itu salah sedari awal proses penegakan hukumnya. 

Bagi komunitas korban First Travel, juga pasti bingung seandainya sisa aset First Travel dibagi kepada korban, sebab jumlahnya tinggal 40 miliar dari 905 miliar yang digelapkan. Seandainya uang 40 miliar dibagi rata untuk 63 ribu jemaah yang belum berangkat umroh, maka satu orang akan dapat hanya sekitar 634 ribu rupiah per orang. 

Padahal mereka menyetorkan uangnya rata-rata 14 jutaan per orang. Bisa jadi benar juga disita untuk negara, sebab uang 634 ribu rupiah kalau dibagi rata per orang juga hanya menambah sakit hati jemaah. 

Karena itu sebaiknya, persoalan ini tidak sekedar menuntut penyerahan aset milik First Travel kepada jemaah korban, akan tetapi mengarahkan tuntutan juga kepada Kementerian Agama. 

Kemenag adalah bagian dari pihak yang harusnya juga bertanggung jawab karena lalai melakukan pengawasan. Di sinilah sebenarnya jemaah korban masih memiliki peluang memperoleh kembali hak-haknya.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00