• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Ulang Tahun ke-74 RRI

11 September
13:30 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Agak unik juga industri media Radio saat ini, khususnya Radio Republik Indonesia. Pada awal tahun 2017, pendengar Pro 3 RRI di Jabodetabek hanya sekitar 70 ribuan pendengar. Namun dalam waktu dua tahun di 2019, sudah melesat menjadi 361 ribu. Kenaikan signifikan, terutama dalam persaingan ketat di Ibukota. Pro1 dan Pro 2 RRI Jakarta juga tampil mengkilap dengan raihan 368 ribu serta 350 ribuan.  

Menurut survey Nielsen, secara nasional pendengar RRI ternyata paling banyak di antara radio yang ada di tanah air. Dari sekitar 75 juta pendengar radio, maka 45 jutanya dengar RRI.
 

RRI ternyata tetap eksis dan makin berkibar di udara. Hal ini juga menafikan pandangan bahwa RRI telah tua dan tidak menarik. Sementara itu secara umum,  industri radio juga menunjukkan gejala yang tidak umum.
 

Pada tanggal 26 september 1960 ada debat Calon Presiden Amerika, dan orang meramalkan Radio bakal ditinggalkan, setelah John F Kennedy menang pilpres di mengalahkan Richard Nixon.
 

Kemenangan John F Kennedy analisanya disebabkan wajah ganteng camera face dibandingkan Richard Nixon yang suaranya michroponis. Namun ramalan itu hilang karena radio masih eksis sampai sekarang.  

Sementara itu pada tahun 1981 saat Music Television atau MTV pertama kali tayang di jejaring televisi kabel Amerika Serikat, ditayangkan video musik berjudul "Video Killed the Radio Star". Momen itu diklaim sebagai awal dari senja kala radio karena kehadiran video. Namun sampai 2019 ini, radio tetap eksis. Radio mampu tetap menarik dan bertahan bersaing dengan TV.  

Namun tantangan berikutnya muncul lagi dan lebih dahsyat, yakni Internet, khususnya social media dan media aplikasi. Ada Youtube, ada facebook ada IG, ada lagi kini Spotify.  

Kali ini, radio menyiapkan strategi berbeda. Tidak bersaing, tetapi berkolaborasi. Orang menyebutnya multiplatform. Kini radio dapat didengarkan bukan saja melalui siaran teresterial, tapi juga streaming dan aplikasi.  

Bahkan RRI, terus mengembangkan multiplatform ini dengan sebutan radio visual. Siaran radio sudah berwarna dan ada gambarnya. Cara menikmatinya pun semakin canggih, karena cukup pada satu device dan satu aplikasi melalui rriplay-go.
 

Pendengar radio pun akhirnya juga berubah. Bila dulu banyak orang tua, namun kini industri radio lebih merebut pendengar muda karena familiar dengan bertahan aplikasi. Lambat laun, pendengar yang tidak melek teknologi juga akan bergeser.
 

Ini bukan suatu pilihan, tetapi kenyataan dari satu keharusan, yakni bila ingin tetap eksis dan survive, maka bukan sekedar bersaing, namun harus mampu berkolaborasi dan menyesuaikan dengan audiencenya.

Secara konten, RRI hidup bersama visi negara ini. Siaran RRI mendamaikan, namun tetap mencerdaskan. NKRI dan nasionalisme adalah semangat yang terus diusung melalui program RRI. Kami tetap hadir dan semakin baik, bersama  publik.   

Terima kasih atas dukungan pendengar, narasumber dan seluruh pihak yang turut menjadikan RRI eksis sampai saat ini.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00