• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Ancaman Resesi Ekonomi Dunia Dalam Siklus 10 Tahunan

7 September
15:53 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Tidak disangka, masalah politik semakin nyata mempengaruhi ekonomi dunia. Padahal saat ini ekonomi menjadi tulang punggung kehidupan suatu negara.

Dulu, Singapura dianggap contoh sukses negara dengan pertumbuhan ekonomi baik dan selalu mampu mensejahterakan rakyatnya. Bahkan saat krisis ekonomi 1998, Singapura juga aman-aman saja. Namun pada tahun ini, pertumbuhan ekonomi negara kota tersebut terkontraksi dan hanya membuat prediksi 0 persen sampai 1 persen.

Malaysia sudah mengkoreksi pertumbuhan Ekonomi hanya kisaran 4 persen. Sementara,  di Eropa, negara dengan ekonomi paling kuat, Jerman Juga mengalami perlambatan ekspor produk manufaktur.

Tudingan utama penyebab masalah ini adalah perang dagang antara Amerika Serikat dam China Tiongkok.

Bagi Presiden Trump, perang dagang ini adalah sebuah pilihan politik, yakni tetap membiarkan pasar Amerika terbuka luas bagi produk China yang harganya murah, atau membatasi masuknya produk
China Tiongkok melalui penerapan pajak tinggi. Dampak dari kebijakan Presiden Trump adalah harga barang makin mahal.

Analisi JP Morgan memperkirakan, tiap orang
Amerika harus mengeluarkan uang tambahan antara 600 sampai seribu dollar pertahun sebagai dampak perang dagang antara China dan Amerika. 
Konsumsi Amerika melambat dan dampaknya, produk China pun menurun. Sementara banyak negara Asia, mengekspor barang ke China. Semunya saling berkait seperti permainan kartu domino.

Lalu di mana posisi Indonesia..? 

Sebenarnya Indonesia punya pasar luas dan besar sekali. Dua ratus juta lebih orang Indonesia adalah konsumen paling captive. Jadi, harusnya aman. Tetapi sayangnya Indonesia bukan bangsa mandiri, karena hidupnya dari produk impor. Minyak BBM Impor, kedelai impor, garam impor, mobil impor, handphone impor, bahkan jarum pentul dan peniti saja impor. Akibatnya, neraca perdagangan lemah. 

Bila pabrik manufaktur hanya jualan ke sesama orang Indonesia di pasar dalam negeri, maka uang yang diterima hanya rupiah. Sedangkan rupiah, tidak laku untuk beli barang ke China, ke Jepang atau ke Korea. Harus ada aliran devisa ke dalam negeri agar ada uang masuk.

Sedangkan untuk dapatkan aliran devisa harus jualan ke luar negeri. Di luar negeri sedang susah. Maka, bisa jadi, Indonesia harus siap siap jadi susah.
 Susah karena orang Indonesia tidak mampu bikin barang sendiri dan sebagian besar bergantung impor. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menurun hanya sekitar 5 persen.

Akhirnya, jadi teringat mimpi Presiden Soekarno, untuk jadi bangsa Berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Sayangnya, itu cuma slogan yang bergema di dalam angin. Nyaris tiada wujudnya, karena di Indonesia ini aneh bin ajaib, lautnya luas, pantainya panjang, tetapi untuk garam saja harus impor.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00