• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Penyesuaian Biaya Sejumlah Layanan Publik Akibat Pencabutan Subsidi

6 September
16:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kalau mau dibilang tidak sehat atau tidak, sebenarnya ekonomi negara ini kurang bagus. Salah satunya adalah besaran subsidi energi dari negara sebesar 130 trilyunan tiap tahun. Secara umum, memang subsidi energi tersebut diberikan ke berbagai sektor. Hanya saja, subsidi ini diarahkan pada pelanggan yang secara ekonomi dianggap kurang pas.

Mulai tahun 2020, atau tahun depan, konsumen listrik 900 watt, sudah harus siap mengeluarkan biaya tambahan. Sebab mereka sudah dianggap golongan mampu dan tidak perlu dapat subsidi listrik. Ini pilihan tidak menguntungkan sebenarnya, sebab dianggap kebijakan tidak populis. Padahal sesungguhnya, negara sangat berat harus menanggung subsidi warganya.

Bila zaman Pak Harto dulu segala hal di subsidi,  maka memang terasa nyaman
. Bensin di subsidi,  listrik subsidi, dan berbagai hal lain. Padahal, uang subsidi tersebut dapat digunakan untuk kepentingan lain.

Sementara, kebijakan subsidi justru mendorong masyarakat konsumtif, boros dan tidak hemat. Karena merasa murah, maka penggunaan listrik sering tidak terkendali. Selain itu, ada modus baru pemanfaatan listrik subsidi untuk keperluan rumah kos dan rumah sewa. Ini jelas pelanggaran.

Pada sektor energi lain, semisal penyediaan gas elpiji melon 3.5 Kg, juga sering dimanfaatkan secara salah sasaran.

Intinya, subsidi itu banyak yang tidak sehat. Alokasi subsidi sebaliknya, juga harus benar, artinya, tatkala pengguna listrik 900 Watt dicabut subsidinya, maka  efisiensi sebesar 6,9 trilyun rupiah harus tepat sasarannya. 
Jangan sampai, angka efisiensi tersebut dialirkan kepada anggaran yang juga konsumtif.

Pemerintah dan DPR perlu menjelaskan kepada publik pengalihan anggaran subsidi tersebut untuk keperluan yang lebih produktif. 
Kita ingin Republik ini menjadi sehat dan efisien dalam penggunaan anggaran dan energinya.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00