• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Pertemuan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umun Partai Gerindra Prabowo Subianto

25 July
09:11 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pertemuan hangat antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri telah membuktikan bahwa Politik di Indonesia bukan berdasar idealisme prinsip dan ideologi,  namun lebih banyak pada politik kepentingan. 

Tidak banyak atau bahkan tidak ada partai politik di Indonesia yang memiliki prinsip kuat untuk terus diperjuangkan bersama konstituennya. Politik kepentingan yang sangat cair masih dominan di negeri ini. Artinya,  bila ada dua partai atau beberapa partai saling serang dan beda pendapat,  sesungguhnya itu hanya kulit dan bunga-bunga demokrasi belaka.

Tidak ada musuh abadi dan tidak ada teman abadi dalam perpolitikan di negeri ini. Kondisi demikian sangat berbeda dengan di negara lain,  semisal di Amerika Serikat ataupun Inggris. Di Amerika Serikat misalnya, antara Partai Republik dengan Partai Demokrat memiliki perbedaan prinsip yang dipahami secara jelas oleh para konstituennya. Partai Republik sangat konservatif dan kuat menganut prinsip ajaran Nasrani protestan,  sedangkan Partai Demokrat cenderung liberal dan sekuler. 

Donald Trump berasal dari Partai Republik yang menjadikan agama kristen protestan sebagai isyu kampanyenya. Di Inggris,  perbedaan antara Partai Buruh yang cenderung mengarah ke sosialis kiri sangat berbeda dengan partai konservatif dengan kecenderungan liberal dan bebas. 

Karena itu, para konstituen yang ada,  dalam menterjemahkan posisi dan sikap partai politik di Indonesia,  tidak boleh muncul kebencian atau dukungan sampai disimpan dalam hati. Karena di negeri ini,  pada saat sekarang menjadi kader partai A atau berada pada pihak koalisi A,  maka bulan depan atau tahun depan,  sudah berubah ke Partai B atau Koalisi B. Sebutlah Ali Muchtar Ngabalin dan Yusril Ihza Mahendra yang beda posisi antara periode lalu dengan periode sekarang. Atau sebutlah tokoh Ruhut Sitompul yang pernah jadi kader Golkar,  lalu ke Demokrat dan sekarang tidak jadi jubir Demokrat lagi. 

Demikian halnya antara Megawati dan Prabowo. Dulu keduanya bareng jadi Capres dan Cawapres,  lalu sama sama dukung JokoWi - Ahok di Pilkada DKI,  lalu kemudian pecah kongsi pada Pilkada DKI dan Pilpres berikutnya,  Hingga kemudian, kemarin akur kembali sembari nostalgia bareng makan nasi goreng zaman dulu. Ini adalah fakta perilaku politik di Indonesia. Tidak perlu ada pendukung Jokowi dan Prabowo yang dibawa ke perasaan alias baper. Dulu saling serang hingga ke lubuk yang paling dalam,  namun sekarang ibaratnya -sayang sayangan kembali. 

Karena itu,  bagi siapapun yang terlibat atau bermain dalam politik, tidak lah perlu politik itu dibawa ke perasaan karena pasti kecewa. Politik itu hanya di nalar pikiran dan kepentingan yang sama. Dan pertemuan antara Megawati dengan Prabowo telah menunjukkan bahwa tatkala ada kepentingan lebih besar, termasuk kepentingan persatuan bangsa,  maka rivalisasi politik menjadi nomor sekian. Satu tradisi khas negeri ini. 

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00