• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Benarkah Teror Bom Molotov Pimpinan KPK, Terkait Kasus yang Ditangani KPK Saat Ini ?

10 January
19:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Belum lagi terungkap, siapa pelaku teror yang menyiram air keras kebagian muka penyidik senior KPK Novel Baswedan, dua pimpinan KPK, kembali menerima teror dari orang tidak dikenal.

Informasi sementara dari pihak kepolisian, pelaku teror melemparkan bom molotov ke rumah wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Kalibata, yang diduga dilakukan dua orang tidak dikenal berboncengan. Pelaku teror bom molotov juga menyasar, kediaman pribadi Ketua KPK Agus Rahardjo di Bekasi. Bom molotov ditemukan tergantung dipagar rumahnya.

Banyak pihak yang berspekulasi, bahwa teror bom Molotov di rumah kedua pimpinan KPK itu, dilakukan orang orang yang tersandung kasus korupsi di KPK. Ada juga yang menyebutkan, teror bomb Molotov tersebut, sengaja dilakukan, sebagai sinyal, agar pimpinan KPK, berhati hati dalam menangani kasus korupsi.

Ancaman teror ataupun intimidasi, sebenarnya bukan kali pertama atau kali kedua, yang dialamatkan kepada pimpinan, penyidik dan pegawai KPK.

Menurut mantan juru Bicara KPK Johan Budhi , teror yang sama juga pernah dialamatkan ke KPK. Teror tersebut bukan saja dalam bentuk kekerasan fisik, juga terror melalui pesan singkat.

Ada empat hal, yang perlu dicermati agar teror dan intimidasi terhadap pimpinan, penyidik dan pegawai KPK tidak berulang. Pertama, aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian, harus serius mengusut tuntas kasus ini, agar tidak memunculkan spekulasi di tengah masyarakat. Kedua, pengusutan kasus ini, menjadi momentum bagi Kepolisian, agar stigma negative dari masyarakat, bahwa Polisi tidak serius mengungkap kasus teror di KPK, tidak sepenuhnya benar. Ketiga, tidak boleh satupun di negeri yang dapat melakukan aksi terror dan intimidasi kepada institusi penegak hukum, yang menjalankan tugas Negara, dalam pemberantasan korupsi. Keempat, jangan sampai kasus ini menguap, seperti kasus yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan, karena alasan kurangnya alat bukti.

Penyidik dan pimpinan KPK, yang berani mengungkap kasus-kasus besar terkait masalah korupsi, seharusnya mendapat perlindungan yang maksimal. Kalau gagal melindungi mereka, maka tidak ada lagi yang mau berkontribusi untuk melakukan sesuatu yang besar dan berbahaya. Padahal, Negara membutuhkan keberanian dari orang-orang yang punya integritas untuk pemberantasan korupsi.

Negara tidak boleh membiarkan ada oknum oknum yang berkeliaran menebar dan melakukan terror. Jangan biarkan mereka mempermainkan institusi penegak hukum di Negeri ini, meskipun ancaman, terror dan intimidasi, merupakan konsekwensi dari sebuah tindakan yang berani yang dilakukan institusi KPK.

Tentang Penulis

Rahman Rifai

Redaktur Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00