• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Musibah di Kawasan Selat Sunda, Pesisir Banten dan Lampung

24 December
23:50 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kita pasti masih ingat saat Gempa dan tsunami Aceh terjadi pada tahun 2004. Tanggal kejadiannya adalah 26 Desember, yakni 4 hari dari tanggal 22 Desember malam kemarin saat tsunami dan air pasang menerjang kawasan pesisir selat sunda. 

Memang dari segi jumlah  jauh lebih besar peristiwa tsunami Aceh, akan tetapi tetap saja di kawasan pesisir Selat Sunda ada ratusan orang tewas. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, sejumlah wisatawan yang hadir di kawasan Wisata terkenal, seperti pantai Sumur, Carita dan Tanjung Lesung turut menjadi korban.  Ada AA Jimmi, artis yang kerap menirukan gaya Aa Gym juga menjadi korban.  Ada personil kelompok band seventeen yang juga jadi korban. Belum lagi masyarakat setempat yang lama menetap di kawasan tersebut.

Kawasan Selat sunda sesungguhnya memang daerah rawan.  Selain ombak besar pada musim tertentu, di kawasan itu juga terdapat Gunung anak krakatau. Gunung ini adalah kelanjutan gunung Krakatau yang meletus erupsi besar pada tahun 1883. Sebelum itu, pernah pula meletus tahun 1680. Sekitar 200 tahun tidur. 

Dua hari lalu, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. Getarannya diperkirakan menyebabkan longsor bawah laut dan paduan ombak besar bulan purnama hingga mengakibatkan laut pasang. Akibatnya, ratusan orang di pesisir selat sunda Banten dan Lampung. Kondisi ini sesungguhnya dapat merujuk pada erupsi 1883 dan 1680. Makna sesungguhya adalah, kawasan sekitar Gunung Krakatau adalah kawasan rawan.  Sepanjang gunung tersebut masif aktif maka sepanjang masa itu pula ada potensi bencana. Dalam catatan, akibat letusan tahun 1883, gelombang tsunami menerjang hingga 15 kilometer ke daratan. 

Menyikapi fakta sejarah modern tersebut, ada baiknya setelah proses evakuasi musibah tsunami 2018 ini selesai, maka pemerntah perlu menata kembali kawasan sekitar Selat Sunda.  Ini perlu, agar kerusakan dan korban jiwa dapat diminimalisir. Dapat dibayangkan, dengan getaran dan longsor gunung anak Krakatau dua hari lalu, kerusakan dan korban yang ditimbulkan mencapai ratusan orang tewas. 

Bagaimana seandainya terjadi letusan seperti tahun 1883 ? Tentu lebih banyak korban.  Pemerintah perlu serius tentang hal ini, bila dibiarkan, maka sama saja menyediakan musibah bagi banyak manusia.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00