• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Duka Papua dan Pembangunan Infrastruktur Papua tidak Terhenti

5 December
08:01 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas  tewasnya  31 pekerja pembangunan jembatan di Kali Yigi-Kali Aurak Kabupaten Nduga, Papua pada tanggal 2 Desember. 

Hampir seluruh  pekerja bangunan tersebut diketahui tewas akibat ditembak oleh Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB), dimana peristiwa ini menjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang sadis.  Mereka  merupakan pekerja  PT Istaka Karya, salah satu anak Perusahaan BUMN, sebagian besar merupakan putra-putra terbaik Papua,   sangat pantas jika Pemerintah memberikan penghargaan kepada mereka yang gugur  saat mengerjakan proyek infrastruktur Trans Papua.

Pekerja pembangunan jembatan tersebut  tidak sempat tertolong, karena   berada di wilayah pegunungan tengah yang jauh dari ibukota Nduga dan Kabupaten Jayawijaya. Mereka  diduga dibunuh  gara-gara  mengambil foto pada saat perayaan Hari Ulang Tahun  Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka di wilayah lokasi jembatan tersebut.

KKSB pimpinan  Egianus Kogoya selama ini mempunyai catatan rapor merah oleh aparat Kepolisian dan TNI, karena  melakukan serangkaian aksi penembakan, termasuk  menyerang pos TNI yang mengakibatkan  satu orang prajurit TNI  gugur dan satu luka-luka. 

Dengan tragedi penembakan tersebut, apakah mereka  masih tepat disebut  kelompok kriminal sipil bersenjata  atau sudah bisa disebut sebagai  pemberontak, karena diindikasikan politik  ingin  memisahkan Papua dari Republik Indonesia? Kalau mereka memberontak, maka mereka bukan  kriminal lagi, sehingga penanganannya dapat dilakukan oleh  TNI, sedangkan jika statusnya   kriminal maka ditangani POLRI. 

Presiden Joko Widodo kemarin telah  memerintahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengecek kejadian tersebut,  karena dianggap  masih simpang siur.  Presiden Joko Widodo  pernah mengunjungi kawasan Kabupaten Nduga, Papua, sebagai wilayah yang  masuk dalam zona  berbahaya.

Kita  menyadari bahwa pembangunan di tanah Papua memang medannya sangat sulit, termasuk masih   adanya gangguan dari kelompok bersenjata. Walau demikian, Presiden Joko Widodo  mengharapkan bahwa  pembangunan di Papua terus berlanjut dan  tidak akan terhenti karena kasus ini. 

Jalan Trans-Papua adalah jalan nasional yang menghubungkan Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua, membentang dari Kota Sorong di Provinsi Papua Barat hingga Merauke di Provinsi Papua dengan total panjang mencapai 4.330 kilometer.  Jalan Trans-Papua yang diharapkan rampung tahun 2019 memiliki arti penting sebagai infrastruktur penghubung antara daerah-daerah di kedua provinsi tersebut, termasuk yang terisolasi.

Sebagaimana diketahui bahwa Pembangunan Jalan Trans-Papua memang sudah dimulai sejak pemerintahan Presiden B.J.Habibie, namun dibangun secara besar-besaran mulai tahun 2014 sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Semoga kasus tewasnya 31 pekerja jembatan tersebut terungkap dengan jelas dan  pembangunan  infrastruktur di Papua tidak terhenti. Karena pembangunan yang fenomenal ini, telah  menjadi fokus pemerintahan Joko Widodo didasari atas tujuan  untuk menciptakan keadilan, mengurangi kesenjangan pendapatan dan kesenjangan antar wilayah, serta mengurangi tingginya harga di masing-masing wilayah.

Tentang Penulis

Alit Wiratmaja

< h3 class="r" sans-serif background-color:#ffffff;"><a href="https://www.antaranews.com/berita/212606/alit-wiratmaja-terpilih-menjadi-anggota-dewas-rri" Wiratmaja</a>&nbsp;</h3>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00