• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Kasus Pelecehan Seksual Baiq Nuril di Mataram NTB

16 November
14:20 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Rasa keadilan kembali dipertanyakan masyarakat dalam kasus pelecehan seksual yang menimpa seorang wanita Baiq Nuril mantan pegawai SMA 7 Mataram Nusa Tenggara Barat. Nuril merekam sebuah percakapan asusila yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA 7 Mataram kepada dirinya akibat perbuatannya itu Baiq Nuril dilaporkan oleh sang kepala sekolah ke polisi dan diproses secara hukum. Namun dalam persidangannya di Pengadilan Negeri Mataram Nusa Tenggara Barat, Baiq Nuril dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari semua tuntutan. 

Usai keputusan pengadilan itu Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Baiq Nuril didakwa melakukan pelanggaran pasal 27 ayat 1 yunto  pasal 45 ayat 1 UU no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi penuntut umum kepada Kejaksaan Negeri Mataram dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Mataram itu. Dalam putusan kasasi tersebut Baiq Nuril dinyatakan telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana ITE dan terancam pidana enam bulan kurungan penjara serta denda 500 juta rupiah. 

Pertanyaannya, apakah keputusan mahakamah agung yang mengabulkan kasasi jaksa penuntut umum itu sudah memenuhi rasa keadilan? jawabnya adalah jika dari sisi prosedur hukum, langkah yang dilakukan jaksa penuntut umum sah-sah saja, dan sudah sesuai dengan protapnya namun jika ditinjau dari ukuran norma dan nilai hukum yang terjadi tentu keputusan MA yang mengabulkan kasasi jaksa penuntut umum itu, menciderai rasa keadilan seorang Nuril. 

Rasa keadilan yang tercabik-cabik seorang Baiq Nuril ini dibuktikan adanya dukungan masyarakat yang lebih dari 32.000 orang menghendaki Baiq Nuril untuk segera dibebaskan. Tentu menjadi pelajaran berharga bagi pelaku penentu keadilan di negeri ini agar para pengambil dan penentu keputusan satu perkara benar-benar memerhatikan aspek hukum secara menyeluruh, bukan hanya berlandaskan aspek kepastian hukum tetapi yang lebih penting memerhatikan aspek rasa keadilan. Agar tidak terjadi polemik berkepanjangan sekaligus masyarakat semakin tidak percaya terhadap keputusan pengadilan yang menilai hukum hanya berlaku untuk orang-orang kecil, tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Tentang Penulis

Yanto Prawironegoro

ypn1964@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00