• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Dilematis, Ada Apalagi dengan Impor Jagung ?

14 November
08:17 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Kementerian Pertanian  yang merekomendasi  sampai  terbitnya izin untuk mengimpor jagung maksimal seratus ribu ton tahun ini kembali menjadi sorotan yang tajam.

Polemik impor jagung terjadi akibat adanya laporan Kementerian Pertanian yang menyatakan  bahwa justru   Indonesia mengalami surplus jagung sebesar 13 juta ton. 

Kemudian  pertanyaan muncul kenapa mesti impor jagung, padahal sudah surplus ?

Sebagaimana diketahui bahwa  Pemerintah menerbitkan izin impor  jagung setelah melalui rapat terbatas yang dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian. 

Keputusan impor jagung diambil setelah Menteri Pertanian melaporkan harga jagung justru melonjak tinggi akibat  sebaran sentra produksi jagung dan pabrik pakan ternak yang tidak merata di seluruh wilayah Indonesia.

Jagung yang diimpor adalah untuk pakan ternak dan bukan konsumsi masyarakat. Ini bertujuan untuk menanggulangi kenaikan harga pakan  ternak yang tidak terbendung dan dikhawatirkan menyebabkan kenaikan harga produk perunggasan. 

Sebagian pihak menyatakan bahwa impor jagung masih dibutuhkan, khususnya untuk suplai ke pakan ternak ayam, sedangkan sebagian pihak lainnya memandang tidak perlu impor karena produksi jagung sudah surplus. 

Memang menjadi dilematis ketika  impor jagungnya dibatasi, kemudian  peternak mencari pakan dari gandum yang berasal dari impor juga. Hal ini  akibat harga  jagung lokal  lebih mahal. Oleh sebab itu, Jagung  yang akan diimpor tersebut nantinya akan masuk gudang Bulog dan tidak akan dikeluarkan jika harga jagung maupun harga pakan ternak sudah turun. 

Impor jagung seratus ribu ton tersebut  sebenarnya sangat kecil dan ini dianggap sebagai alat kontrol saja, untuk  stabilitas harga. Apalagi jagung  impor tersebut nantinya  disimpan di  Bulog, dan  kalau  harga turun tidak akan ikeluarkan, apalagi  sebentar lagi kita akan  panen. 

Indonesia sebetulnya sudah mampu  mengekspor  jagung sebanyak  274,9 juta kg dan keberhasilan mengekspor jagung merupakan prestasi yang membanggakan. Sebab, Indonesia dahulu justru mengimpor jagung hingga 3,6 juta ton setiap tahun. 

Sementara itu, Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) yang mengolah data dari FAO pernah merilis  hingga 2017 produksi jagung masih defisit sebesar 2,3 juta ton dibandingkan kebutuhan. Produksi  jagung  tahun lalu hanya tercapai  di angka 20 juta ton, sedangkan  kebutuhan konsumsi dan industri mencapai 22,3 juta ton.

Kesimpangsiuran  data pangan belakangan ini memang menjadi persoalan dan  memancing terjadinya polemik. Oleh sebab itu, kita harapkan Kementerian Pertanian maupun BPS memiliki data yang valid, sehingga Pemerintah dapat mengambil keputusan yang tepat, dan tidak sampai menimbulkan polemik kembali.

Tentang Penulis

Alit Wiratmaja

< h3 class="r" sans-serif background-color:#ffffff;"><a href="https://www.antaranews.com/berita/212606/alit-wiratmaja-terpilih-menjadi-anggota-dewas-rri" Wiratmaja</a>&nbsp;</h3>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00