• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Diskursus Harga Mahal terhadap Sejumlah Kebutuhan Pokok di Pasar

5 November
08:05 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Calon wakil presiden nomor urut 02 sandiaga uno, dianggap sering melontarkan permyataan harga kebutuhan pokok mahal. Beberapa waktu lalu, Sandiaga menyatakan harga kebutuhan pokok mahal di Pasar Parung Panjang Kabupaten Bogor. Bahkan menurut Sandiaga, mahalnya biaya tersebut ditambah lagi dengan mahalnya biaya liatrik serta keperluan lain.

Sedangkan Calon Presiden Nomor urut 01, Joko Widodo berbicara sebaliknya. Saat mengunjungi Pasar Surya Kencana Bogor, Joko Widodo membantah harga harga kebutuhan pokok mahal. Pada ahad kemarin,  Presiden Joko Widodo mendatangi pasar Anyar di Tanggerang. Kala itu,  Joko Widodo mengecek langsung harga barang di pasar Anyar. Menurut Joko widodo, harga barang fluktuatif. Ada yang turun dan ada yang naik.  Menurut Presiden,  harga saat ini masih stabil. Ia berharap, tidak ada pihak yang meneriakkan harga kebutuhan pokok mahal. 

Mengutip data pada BPS DKI Jakarta,  pada survey September yang dirilis bulan Oktober,  terjadi deflasi sebesar nol koma 13 persen.  Sedangkan survey Oktober yang dirilis awal November,  harga mengalami inflasi nol koma 28 persen. Artinya, ada barang di DKi yang naik,  tapi sangat tipis,  hanya nol koma. Sedangkan secara nasional,  kenaikan inflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 2 koma 27 persen.  Data tersebut memang menunjukkan fluktuasi harga di pasar. Namun sangat tipis. 

Kanaikan atau penurunan harga kebutuhan di pasar memang dirasakan khalayak banyak, padahal harga barang di Mall jauh lebih mahal. Fluktuasi adalah di pasar. Barang di pasar Swalayan dapat berkali lipat dibandingkan pasar tradisional. Namun pembeli tetap datang, karena rapi dan tertata.  

Karena itu,  progran revitalisasi pasar tradisional adalah bagian penting yg juga prioritas, di samping bicara soal kestabilan fluktuasi harga. 

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00