• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Genap 4 Tahun Presiden Joko Widodo Menjadi Presiden Republik Indonesia

22 October
07:57 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Banyak catatan keberhasilan pada empat tahun pemerintahan Joko widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2014 -2019.

Catatan pertama keberhasilan adalah soal infrastruktur. 

Ini adalah keberhasilan paling signifikan selama ini. Jalan Tol Trans Jawa hampir tersambung, sehingga memberikan kenyamanan bagi pengemudi kendaraan. Terlepas dari dampak sosial ekonominya, tol trans jawa cukup menunjukkan keberhasilan infrastruktur. 

Pembangunan bandara baru cukup banyak, bahkan wajah bandara baru, sangat menarik hati karena standardnya internasional. Tengoklah terminal 3 Soekarno Hatta, Bandara majalengka di Jawa Barat, dan Bandara Ahmad Yani Semarang. Banhkan bandara di Pulau paling utara Indonesia, yakni Pulau Miangas pun memiliki bandara sangat bagus. Capaian lain, adalah kestabilan harga kebutuhan pokok Inflasi rendah, dan bahkan sejumlah produk mengalami deflasi. 

Kondisi ini antara lain disebabkan turunnya harga minyak dunia pada periode awal hingga tajun ketiga pemerintahan Jokowi JK. Selain itu juga ada penurunan permintaan produk dunia dari China Tiongkok sehingga ekonomi internasional tidak sepanas tahun sebelumnya. 

Sayangnya, periode tahun keempat akhir dan awal tahun kelima ini, harga minyak dunia sudah menggeliat, sehingga berdampak pada Indonesia yang merupakan negara pengimpor besar minyak. Kondisi APBN agak mengkahwatirkan karena pilihan Presiden Jokowi untuk menaikkan harga BBM, dapat berdampak sosial politis. Bensin Premium  nyaris dinaikkan, walau dibatalkan hanya dalam hitungan jam. Sedangkan harga Pertalite, kata Pihak Pertanina sudah di bawah nilai keekonomian. 

Kondisi Moneter, memang menjadi tantangan Pemerintajan Presiden  Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Salah satu catatan di bidang ekonomi adalah nilai rupiah yang semakin menurun terhadap dollar Amerika. Sekarang sudah tembus 15 ribu rupiah per satu dollar. Presiden harus mampu menangani hal ini, sebab dampaknya sangat mengkhawatirkan, terutama karena rakyat Indonesia, hidupnya sekarang tergantung impor dari negara lain.

Garam impor, beras Impor, BBM impor, handphone impor, bahkan tempe yang kabarnya makanan khas Indonesia, ternyata kedelainya buatan Amerika. Makan mie Instant, mie rebus, dan menikmati bakmi Jowo,  ternyata terigunya berasal dari Gandum impor. Artinya, kebaikan dolllar Amerika, sangat mungkin berdampak pada kebutuhan konsumsi publik. 

Catatan terakhir pemerintahan Joko Widodo Jusuf Kalla, adalah soal koordinasi antar lembaga dan kementerian. Ini cukup serius. Sebutlah misalnya soal pembatalan kenaikkan harga BBM Premium. Kenaikkan harga sudah ditetapkan Kementerian ESDM, namun beberapa jam kemudian atas desakan Kementerian BUMN dibatalkan. Ini jelas miss koordinasi. 

Persoalan Impor Beras juga persoalan koordinasi antara Menteri Perdagangan dan Bulog. Menurut Bulog, stok beras cukup banyak di gudang Bulog, akan tetapi Menteri Perdagangan bilang perlu impor. Terakhir adalah soal Proyek properti Meikarta. Ada seorang menteri bilang, proyek Meikarta aman soal perizinan. Namun ucapan menteri itu akhirnya dipertanyakan karena KPK berhasil menangkap seorang pimpinan Proyek Meikarta dan Bupati Bekasi. 

Ketidak sinkronan pernyataan dan kebijakan antara Menteri dan Lembaga di dalam pemerintahan, harus mampu diselesaikan, karena koordinasi dan sinkronisasi adalah bagian dari kemampuan manajerial seseorang pimpinan. Ini sekedar catatan RRI yang juga sudah tampak di tengah publik. Masih ada waktu satu Tahun bagi Pak Presiden Joko Widodo dan Yusuf Kalla untuk memperbaiki kekurangannya.

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00