• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Perlu Paradigma Baru untuk Mengatasi Kemacetan di Jakarta

16 October
08:06 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Janji kampanye pasangan anis baswedan dan sandiagauno salah satu diantaranya mengurai kemacetan yang terjadi di DKI Jakarta.   Satu tahun  memimpin, belum terlihat solusi yang ditawarkan pasangan ini, terlebih saat ini anis harus sendirian mengurusi Jakarta.   Sistem 3 in one yang sudah hampir lebih dari 24 tahun diterapkan untuk mengatasi kemacetan ,  diganti dengan system ganjil genap yang akan diberlakukan hingga akhir tahun 2018 ini.   Gonta ganti system, toh Jakarta tetap saja macet, entah apa yang salah dari kedua system ini.bisa jadi system mengurai kemacetan yang dilakukan. nyatanya tidak dibarengi dengan solusi sistemik atas problem transportasi umum di Ibu Kota.   Masalah utama kemacetan lalu lintas di Jakarta adalah perpindahan populasi dari rumah ke tempat kerja. Namun, kondisi transportasi di Jakarta masih belum mendukung.ini di akui oleh anis sebagai pekerjaan rumah yang dari tahun ke tahun butuh penanganan khusus.   Kita tentu mendukung dan mendorong penanganan khusus yang akan diberlakukan oleh pemprov DKI Jakarta, seperti membuat transportasi publik massal, bukan non-massal kayak taksi atau ojek, warga Jakarta butuh tapi transportasi publik massal yang jumlahnya harus meningkat signifikan, rutenya juga mengikuti rute sebaran penduduk, titik transitnya juga harus ditambah lebih banyak lagi , kualitas kendaraan ditingkatkan, kenyamanan ditingkatkan, dan harganya cukup satu kali jalan saja meski berpindah shalter dan moda transportasi.   Pertanyaannya mungkinkah itu semua bisa tewujud ? Mengingat selama ini, wacana tentang penyelesaian masalah kemacetan di Jakarta memang hanya fokus terhadap inovasi untuk membuat proses melaju atau (commuting) menjadi lebih efisien, seperti membangun MRT. Fokus ini berdasarkan pada pemahaman bahwa kemacetan adalah terutama sebuah problem transportasi. Sepintas, tak ada yang problematis dari pemahaman ini. Akan tetapi, kalau kita gali lebih lanjut dan ungkap asumsi tersembunyi yang mendasari pemahaman tersebut, kita akan menyadari bahwa sebenarnya  untuk mengatasi persoalan kemacetan sekaligus ketimpangan, pemerintah perlu mengganti paradigma tata ruang Jakarta, dari spesialisasi zona menjadi penggunaan lahan campuran (mixed land use). Hal ini berarti mengizinkan pembangunan hunian di wilayah perkantoran dan komersial dan sebaliknya. Dengan demikian beberapa perubahan positif penting terjadi, terutama dalam bentuk meningkatnya suplai hunian di daerah dekat perkantoran. Peningkatan ini mestinya akan berdampak langsung terhadap volume kendaraan di jalanan Jakarta, karena orang-orang yang tinggal di dekat kantor dan pusat perbelanjaan tak perlu mobil untuk hilir-mudik. Mungkin sudah saatnya merubah paradigma lama tersebut Kantor dan pemukiman jadi  contoh sederhana untuk mengurai kemacetan , tentu juga harus didukung  pula fasilitas lain seperti pusat perbelanjaan, restoran, dan tempat hiburan.

Tentang Penulis

Besty Simatupang

rri.co.id

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00