• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Saling Menguatkan di antara Warga Bangsa Pasca Bom di Surabaya

15 May
15:59 2018
0 Votes (0)

KBRN, Sejak minggu pagi hingga kemarin siang, kota Surabaya dan Sidoarjo menjadi sorotan publik. Seluruh media massa nasional dan lokal, termasuk sebagian media massa luar negeri memberitakan tragedi memprihatinkan. Dalam peristiwa Bom Bunuh Diri, peledakan Bom, dan meledakkan bom di rumah penghuni, tentu saja membuat orang menyampaikan keprihatinannya.

Para korban sebagian wafat, sebagian terluka dan sebagian lainnya kehilangan anggota keluarga. Masyarakat bersedih, ada juga yang bertanya tanya, bagaimana mungkin, satu keluarga melakukan aksinya secara paralel bersama-sama termasuk dengan anak mereka yang masih kecil. Anak usia 9 tahun, Famela. Kita bisa bayangkan, bocah kecil berusia 9 tahun yang masih suka main sepedaan, harus mengikuti kehendak orang tuanya untuk mengebom salah satu gereja. Ada juga Fadila. Umurnya baru 12 tahun. Anak sekecil itu biasanya sedang rajin rajinya ke surau, belajar mengaji dan membantu Ibu Di rumah. Tapi masa depan dua bocah perempuan itu hilang karena kehendak orang tuanya.

Ada juga Yusuf dan Firman. Mereka masih remaja. Tapi sekali lagi, bisa jado iti juga kehendak orang tuanya, yakni Dita Supriyanto dan Puji Kuswati. Ini bukan ilusi. Ini adalah fakta. Keluarga yang menjadi korban kehendak orang tua yang memiliki ideologi takfir. Ideologi yang berkembang pada lungkungan di sekitar kita. Kadang dalam masyarakat modern, seribg kita tidak mau tahu urusan orang. Padahal ternyata, di antara urusan orang itu ada yang akan menghancurkan kita. Bisa jadi para teroris dan pendukungnya saling bersorak sorai melihat kegaduhan kita. Semakin kita gaduh dan panik, semakin mereka bersorak sorai.

Kita boleh prihatin, tapi tak harus bersedih. Melawan teroris dan aksi teroris, tidak bisa saling ada kuat. Membasmi hingga akar rumput penting, namun juga harus diperhatikan caranya. Indonesia bangsa yang besar, bangsa yang insya Allah dapat segera menyelesaikan masalahnya.

Terakhir, kami nukilkan catatan Kepala BPIP, Yudi Latif untuk pendengar RRI. "Kebiadaban terorisme menghancurkan nilai keagamaan dan nilai Pancasila. Siapa yang tak bisa hidup mulia di dunia, tak ada tempat baginya di sisi Tuhan.Teroris yang keji, hidup tak mulia, mati tak syahid. Orang-orang yang mati syahid mewariskan kebahagiaan dan kebaikan pada kehidupan. Orang yang mati pengecut tega membunuh dan bunuh diri, yang menimbulkan kesengsaraan dan keburukan bagi kehidupan. Mengutuk segala aksi kekerasan atas nama firman suci. Mengajak semua memuliakan nilai-nilai kesucian dengan akhlak terpuji, yang mengedepankan cara-cara damai dan welas asih".

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00