• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Kedubes AS Pindah ke Yerusalem, Kedamaian Terancam

12 May
10:32 2018
0 Votes (0)

Disusun Oleh : Besty Simatupang

KBRN, Jakarta : Kondisi perpolitikan internasional kini mulai  memanas, khususnya antara negara-negara timur tengah dan juga negara-negara lainnya, menyikapi pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerussalem atas gagasan Presiden Amerika Serikat Trump yang hanya memperkeruh penyelesaian konflik antara Palestina dengan Israel.

Di Indonesia umat muslim Indonesia sebagai bentuk solidaritasnya menggelar aksi di lapangan silang Monas.
Dalam tuntutannya para pendemo mendesak pemerintah Indonesia untuk mendorong perserikatan bangsa-bangsa (PBB) maupun organisasi kerjasama Islam (OKI), untuk menggelar sidang darurat sebagai bentuk aspirasi masyarakat muslim global terhadap keputusan kontroversial presiden Amerika tersebut.

Termasuk, mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk membatalkan pengakuan terhadap eksistensi Yerussalem sebagai ibukota Israel yang diikuti dengan pemindahan kedubes.

Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv nyatanya adalah sebuah wacana yang telah berlangsung sejak 22 tahun silam, yang dihasilkan dari kongres pada tahun 1995. Dan untuk tetap menempatkan kedutaan tetap berada di Tel Aviv nyatanya sejak dahulu penundaan pemindahan ini terus dilakukan sampai sekarang dengan adanya penandatanganan dokumen penundaan selama enam bulan sekali.

Dengan kata lain wacana-wacana pemindahan ini terus berlangsung dan digaungkan oleh para pemimpin AS setelah 1995, akan tetapi belum ada yang merasa berani untuk memindahkannya, terlihat dengan adanya penandatanganan dokumen penundaan yang dilakukan selama enam bulan sekali oleh pemerintah AS.

Terlepas dari keseluruhan teori serta pendapat  berbagai negara atas wacana pemindahan kedutaan Amerika ke Yerusalem, keputusan Trump ini merupakan keputusan politik dan diplomatik paling ekstrem yang diambil oleh seorang presiden AS. Presiden-presiden AS sebelumnya tidak pernah sampai pada level seekstrem ini dalam menerapkan kebijakan politik luar negerinya terhadap Palestina.

Kita melihat keputusan Trump ini akan mendegradasi posisi AS sebagai mediator dalam merancang peta jalan damai Palestina-Israel. Selain itu juga akan merusak citra politik AS di dunia internasional, terutama dunia Islam.

Posisi kita sebagai bangsa Indonesia juga sudah jelas bahwa Pemerintah Indonesia sependapat mendukung Palestina agar Amerika Serikat tidak memindahkan kedutaannya ke Yerusalem sebab menurut Presiden Indonesia Joko widodo pemindahan itu melanggar resolusi dewan keamanan dan majelis umum PBB.

Presiden juga menyebut hal itu mengganggu dan mengecam proses perdamaian yang sedang berlangsung antara Israel dan Palestina.

Tapi entah permainan apa lagi yang coba diperlihatkan AS kepada dunia. Yang jelas kita berharap PBB bisa lebih arif menyikapi permasalahan ini dan tidak kalah dengan ambisius Trump.

Tentang Penulis

Agus Rusmin

Reporter Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00