• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Pelarangan Produksi Minuman Beralkohol, terutama Miras, karena lebih banyak Mudharatnya

10 April
08:53 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Mengkonsumsi minuman ber-alkohol, di Negara Eropa dianggap lumrah atau menjadi budaya. Begitu juga di benua lain seperti Amerika, Australia, bahkan Asia.

Namun tidak demikian di  Indonesia.  Posisi minuman beralkohol, masih mendapatkan stereotip negatif di Indonesia. Seorang yang mengonsumsi alkohol bisa mendapat stigma jelek dari masyarakat.

Di Indonesia, penikmat produk fermentasi ini,  juga tidak bisa menenggaknya di sembarang tempat.

Produk tersebut hanya bisa didapatkan ditempat tertentu, seperti restoran, hotel, kafe, dan tempat lain yang sudah mendapat izin dari pemerintah daerah. 

Pembelinya pun mesti berusia minimal 21 tahun, yang dibuktikan dengan menunjukkan kartu identitas kepada pihak penjual.

Sosiolog dari Universitas Airlangga Surabaya,  Bagong Suyanto menilai,  beredarnya minuman keras oplosan yang mengakibatkan korban jiwa, sebagai bentuk perlawanan simbolik masyarakat kelas marginal terhadap kelas mapan. 

Miras oplosan, diyakini sebagai simbol perlawanan gaya hidup kelas mapan yang lebih suka minuman alkohol yang aman untuk dikonsumsi. 

Padahal, miras oplosan sangat berbahaya karena risiko interaksi zat kimiawi akibat bercampurnya bermacam-macam bahan kimia. dr Andri, SpKJ, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan, miras oplosan dapat menyebabkan efek mabuk yang lebih tinggi.

Kandungan alkohol yang ada di miras oplosan menjadi sangat tinggi dan berbahaya untuk tubuh manusia, akibat pencampuran zat kimia.

Jika dibandingkan dengan minuman keras seperti whiskey, vodka, dan brandy alkoholnya paling tinggi 40 persen. 

Jauh dibandingkan dengan miras oplosan, alkoholnya bisa mencapai 70 bahkan 100 persen karena dicampur dengan alkohol apotek yang seharusnya digunakan untuk pemakaian luar.

Laporan WHO mengenai Alkohol dan Kesehatan tahun 2011, menyebutkan sebanyak 320 ribu orang usia 15--29 tahun meninggal di seluruh dunia setiap tahun karena berbagai penyebab terkait alkohol. Jumlah itu mencapai sembilan persen dari kematian usia tersebut. 

Sementara hasil kajian, Gerakan Moral Anti Miras,  mencatat bahwa sekitar 18 ribu orang tewas setiap tahun di Indonesia akibat minuman keras.

Dampak merusak luar biasa dari miras, menjadi biang tindakan kriminal mulai dari pembunuhan, perkosaan, hingga pencurian.

Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras , Fahira Idris, mengatakan, sebuah negara bisa terlepas dari bahaya miras jika negara tersebut mempunyai regulasi larangan miras setingkat undang-undang yang kemudian dilengkapi dengan peraturan pemerintah sampai peraturan kepala daerah (Perda).

Sebuah daerah juga bisa benar-benar bebas dari miras kalau para ulama rajin turun langsung ke masyarakat menyiarkan besarnya dosa dan mudarat akibat miras.

Untuk itu, peran edukasi sangat penting untuk mencegah agar kasus-kasus keracunan dan kematian karena miras oplosan tidak lagi terulang. Pengawasan orang tua terhadap anak dan remaja, serta aparat kepolisian terhadap kios-kios penjual miras oplosan juga harus diperketat.

Tanpa ada sikap tegas dari pemerintah untuk menghentikan perdagangan miras,  maka hari-hari kita ke depan akan dihiasi dengan berita-berita yang menyedihkan berupa kematian dari anak-anak bangsa karena menenggak minuman haram dan terkutuk tersebut.

(Sumber foto : suara.com)

Tentang Penulis

Rahman Rifai

Redaktur Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00