• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Ambisi Kekuasan dan Reformasi Sosial di Arab Saudi

11 November
08:02 2017
0 Votes (0)

KBRN Jakarta  : Arab Saudi belakangan ini terus melakukan gebrakan begitu cepat dengan sejumlah terobosan sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan agama, yang membuat mata masyarakat internasional terbelalak. 

Baru baru ini,  Komite Anti Korupsi yang dibentuk Kerajaan Arab Saudi, menangkap dan menahan 11 pangeran dan 38 mantan menteri. Diantara Pangeran yang ditangkap, adalah Miteb bin Abdullah, putra dari Raja terdahulu, telah dipecat dari jabatannya sebagai Kepala Garda Nasional.Sosok yang menggantikannya adalah Khaled bin Ayaf, yang memiliki kedekatan hubungan dengan pihak kerajaan. Sedangkan Pangeran Alwaleed Bin Talal yang juga ditangkap adalah pengusaha terkaya dan memiliki saham perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.

Direktur Pusat Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Abdul Mutaali mengatakan, ditangkapnya beberapa pangeran dan menteri sebetulnya menyiratkan pesan agar mereka lebih hati-hati dalam mengelola uang negara.

Mohammed bin Salman, melihat adanya ketimpangan antara hasil dan kenyataan ekonomi nasional.
Dalam wawancaranya dengan  The Guardian, pewaris takhta Saudi itu paham bahwa ultra-konservatisme Saudi adalah penghalang utama visi negara padang pasir yang modern dari segala segi, ditunjang dengan masyarakatnya yang terbuka.

Namun,  banyak pihak yang mempertanyakan,  apakah  reformasi yang dijakankan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, benar benar untuk kepentingan rakyat, atau untuk menyingkirkan lawan politiknya, agar mulus menduduki tahta kerajaan.

Beberapa fakta menyebutkan,  pertama reformasi digerakkan dan dipimpin langsung oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Putra Mahkota Mohammed bin Salman, adalah pangeran muda yang sangat ambisius dan tampaknya Raja Salman ingin memastikan bahwa Putra Mahkota ini yang kelak menggantikannya sebagai raja.

Dalam waktu yang singkat , Pangeran Mohammed bin Salman menjadi putra mahkota di usianya yang baru menginjak 30-an-. Mohammed juga merupakan menteri termuda di dunia. Ia diberi kekuasaan penuh untuk mengendalikan perusahaan minyak, memutuskan kebijakan ekonomi dan investasi serta meneruskan perang di Yaman.

Kedua, reformasi ini menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya. Proyek ambisius putra mahkota jelas membutuhkan kerja sama dengan mitra bisnis, terutama dari negara-negara Barat. Tidak heran jika nantinya sebagian besar perusahaan yang ikut andil dalam proyek tersebut berasal dari Amerika Serikat dan Eropa.

Selain itu, Amerika Serikat dan sekutunya bisa menancapkan pengaruhnya lebih dalam untuk Arab Saudi dan sekitarnya. Ini adalah jalan mulus untuk menguasai jazirah Arab. Mereka semakin leluasa membangun basecamp dan mendatangkan pasukan militer dengan menjaga keamanan di wilayah tersebut. Perang Yaman masih berlanjut, Palestina semakin terdesak dan Qatar semakin ditekan.(RR/ARN)

Tentang Penulis

Rahman Rifai

Redaktur Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00