• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Kominfo Ancam WhatsApp blokir layanannya

7 November
07:43 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : WhatsApp sebagai layanan bertukar pesan singkat kembali membuat geger dunia maya. Jika sebelumnya dipakai menyebarkan hoax, WhatsApp kini dilaporkan mengandung konten yang menjurus kepornografi.
 
Tampilan yang menjurus ke pornografi itu, dapat dicari dengan mudah di dalam aplikasi dengan kata kunci tertentu Gambar-gambar tidak pantas akan muncul, berupa video animasi pendek dengan format GIF- Graphics Interchangeable.

Setiap anggota keluarga di Indonesia tentu merasa khawatir dengan konten pornografi tersebut, karena pengguna WhatsApp di Indonesia diperkirakan mencapai 90 juta orang, diantaranya adalah anak anak dibawah umur. Jika anak anak dibawah usia 13 tahun kebawah terpapar konten pornografi ini, dampaknya  dapat merusak mental, moral, hingga kehidupan berkeluarga
 
Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengaku sudah menghubungi pihak WhatsApp-// Namun anak usaha dari Facebook itu tidak segera membersihkannya. Semuel menjelaskan pemerintah sudah melayangkan tiga kali surat peringatan kepada Whatsapp. Jika tidak digubris dalam 2x24 jam, maka pada hari Rabu  tanggal 8 Nobember 2017 mendatang, Whatsapp resmi diblokir.

Saat ini Kemenkominfo telah menutup enam situs tenor yang berhubungan kepada GIF dari Whatsapp, mereka adalah: Tenor.com,  Api.tenor.comBlog.tenor.comQa.tenor.comMedia.tenor.com, Media1.tenor.com.

Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari mendukung upaya yang dilakukan Pemerintah melakukan pemblokiran terhadap konten berbau pornografi di aplikasi Whats App. Kharis menilai konten tersebut berbahaya karena tidak ada fitur penyaring atau filter sehingga bisa membuat siapa saja mampu mengaksesnya.

Evita Nursanti, anggota Komisi satu DPR dari Fraksi PDI Perjuangan dalam perbincangan di Pro3 RRI mengatakan, Kominfo seharusnya tidak bertindak seperti pemadam kebakaran. Kominfo seharusnya mencari sumber masalahnya, agar kasus serupa tidak terulang kembali. Yang paling penting menurut Evita, Kominfo harus memperkuat tim satuan kerjanya untuk mendeteksi secara dini, konten konten bermasalah di media sosial agar tidak kebobolan.

Tentu, masalah ini tidak bisa hanya dibebankan kepada Pemerintah, pihak pihak terkait, diantaranya Operator seluler harus juga bertanggung jawab untuk menghambat peredaran konten pornografi, kekerasan, berita bohong,  sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat. (RR/ARN)

Tentang Penulis

Rahman Rifai

Redaktur Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00