• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Jaga Mutu Perikanan, KKP Kembangkan Laboratorium Uji

27 March
10:37 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diketahui tengah mengembangkan laboratorium uji untuk mendeteksi kondisi ikan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah hasil tangkapan ikan oleh nelayan masuk dalam kategori penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) atau bukan, sehingga mutu produk perikanan Indonesia dapat terjaga.

"Kami sedang mengembangkan laboratorium uji untuk mendeteksi ikan-ikan yang pengambilannya dengan cara destructive fishing," ujar Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP, Rina, dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Jumat (27/3/2020).

Diakui Rina, sejauh ini, BKIPM sudah bisa mendeteksi ikan-ikan hasil pengeboman. Namun untuk yang ditangkap dengan menyemprotkan racun, pihaknya belum dapat mendeteksi. 

Rina menjelaskan, sulitnya pendeteksian karena ikan yang ditangkap menggunakan racun biasanya hanya pingsan dan akan pulih setelah dipindahkan ke air yang tak terkontaminasi. 

"Sedangkan mendeteksi ikan hasil pemboman lebih mudah karena dapat dilihat dari fisiknya, seperti tulang dan punggung rusak, serta bagian dalam ikan hancur," terang Rina.

Melalui pengembangan uji laboratarium lanjut Rina, pendeteksian ikan akan dilakukan lewat darah. Pihaknya bekerjasama dengan Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dan Institut Pertanian Bogor untuk merealisasikan inovasi tersebut.

KKP melarang penangkapan ikan dengan racun karena dapat merusak ekosistem. Di antaranya membunuh terumbu karang dan biota laut lain. 

Rina memastikan, ikan-ikan hasil destructive fishing, baik pengobaman maupun racun, tidak akan lolos sertifikasi. Ikan yang tidak lolos sertifikasi berarti tidak bisa dikirim ke daerah tujuan. 

"Kalau kami bisa mendeteksi bahwa ikan-ikan ini diambil dengan cara menghancurkan terumbu karang atau menggunakan racun, maka kita bisa langsung tolak biar tidak boleh dilalulintaskan. Si pengusaha ini tentu tidak mau produknya tidak lewat, maka dia akan meneruskan ke suppliernya untuk tidak melakukan destructive fishing," ungkap Rina.

Sementara itu, Menteri Edhy mendukung penuh pengembangan laboratorium uji tersebut. Menurutnya, menjaga kelestarian berarti memperpanjang umur industri kelautan dan perikanan Indonesia. 

"Kita larang yang seperti itu. Jangan kasih tempat untuk destructive fishing," tegasnya.

Menurutnya, perlu ketegasan agar praktik serupa tidak terulang dan kualitas produk perikanan Indonesia terjaga, begitupun alamnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00