• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Mitigasi Bencana, Tantangan Wajib Dijawab Sempurna MRT Fase 2

27 February
22:21 2020

KBRN, Jakarta : PT MRT Jakarta (Perseroda) saat ini terus mempelajari mitigasi bencana terkait tantangan utama yang akan dihadapi dalam proses pengerjaan konstruksi MRT Fase 2.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar mengatakan tantangan utama yang harus mampu dijawab dengan baik bersama PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan Shimizu Corporation Indonesia sebagai konsorsium pemenang tender saat ini, perencanaan struktur MRT Fase 2 mitigasi terhadap bencana seperti banjir, kebakaran dan gempa bumi.

"Tidak masa konstruksi saja sudah banjir, nah ini nanti ketika masa konstruksi pasti akan lebih sulit tantanganya, sebab Fase 2 ke utara Jakarta, tanahnya berada di bawah air laut," kata William P Sabandar kepada Radio Republik Indonesia (RRI) dan awak media di Kantor Pusat MRT Jakarta, Kamis (27/2/2020).

William P Sabandar mengakui konstruksi Fase 2 lebih rumit, dibandingkan Fase 1 karena seluruh pembangunan di bawah tanah dan di beberapa titik akan dibangun di bawah Sungai Ciliwung serta adanya struktur tanah yang lunak di Jakarta Utara.

“Mengingat lokasi proyek yang berada di area Ring 1, PT MRT Jakarta selalu mengedepankan keamanan untuk masyarakat khususnya warga Jakarta. Sehubungan dengan hal tersebut PT MRT Jakarta akan menggunakan sistem perencanaan pembangunan dengan sistem pengamanan tinggi khususnya pada saat pengerjaan konstruksi Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas,” lanjutnya.

Tidak lupa, persoalan teknis seperti ketinggian elevasi entrance stasiun akan disesuaikan berdasarkan kajian hidrologi dengan periode banjir 200 tahunan. rencannya nanti akan dilengkapi dengan "flood protection panel" setinggi 70 cm untuk menjaga dari banjir akibat drainase kota.

Fase 2A dimulai dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur 6 kilometer dan terdiri dari 7 stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota.

Perencanaan pembangunan stasiun MRT Fase 2 ini nantinya akan diintegrasikan dengan halte Transjakarta dalam rangka memanjakan para warga untuk dapat berpindah dari satu moda transportasi ke transportasi lainnya menuju tempat tujuan.

Selain integrasi antarmoda, dalam pembangunan konstruksi Fase 2 juga, sekaligus dibangun Kawasan Berorientasi Transit (TOD). TOD untuk tahap awal di Fase II, di antaranya Thamrin, Harmoni, dan Kota Tua. 

"Kita tahu Fase 1 di Dukuh Atas, Istora, Senayan, Blok M, Fatmawati, dan Lebak Bulus. Fase 2 mengembangkan berbagai kawasan seperti Thamrin kemudian Harmoni, Kota Tua yang akan kita lihat karena cagar budaya dan pusat wisata yang bisa diintegrasikan," tutur Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar.

Nantinya dalam MRT Fase 2 akan terdapat 10 stasiun yang di lintasan, mulai dari Stasiun Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Mangga Dua, dan Ancol yang juga akan dibangun depo.

Proses penandatangan kontrak pekerjaan CP 201 antara PT MRT Jakarta dengan Shimizu – Adhi Karya JV (SAJV) menandai dimulainya pekerjaan proyek pembangunan Fase 2A. Seperti diketahui, bahwa dalam kontrak tersebut terdapat dua pekerjaan stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas. Paket pekerjaan CP 201 akan membangun terowongan dan stasiun yang memiliki jalur sepanjang 2,8 Km untuk menghubungkan Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Harmoni.

Proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 ini tercatat menghabiskan biaya dua kali lipat dari Fase 1 yakni Rp 22,5 triliun, karena seluruhnya akan dibangun di bawah tanah (underground).

(Keterangan Foto : Dok.RRI&MRT)

00:00:00 / 00:00:00