• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Soal Banjir Jakarta, Tokoh Betawi Ajak Cari Solusi dan Jangan Saling Menyalahkan

27 February
08:42 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Banjir yang terjadi di sebagian daerah yang ada di DKI Jakarta menjadi pembuka getir tahun baru bagi masyarakat Jakarta. Banjir yang melanda tersebut tak kala membawa tabiat warga Indonesia, kebanyakan masyarakat saat banjir malah saling tuding siapa yang salah dan siapa yang paling diuntungkan.

Hal tersebut seperti membawa pada ranah suatu hal yang seakan-akan dibenci tetapi ada juga dicinta. Karena setelah banjir yang melanda Jakarta banyak netizen yang menghujat atau membully Kepala Daerah DKI Jakarta.  

Menurut salah satu tokoh Betawi, Ridwan Saidi menanggapi bahwa banjir ini merupakan salah satu musibah. Maka harus tetap mencari solusi yang ada, bukan hanya saling menyalahkan. 

"Karena musibah yang terjadi diluar kota saja tidak banyak orang yang langsung menuding penanggung jawab pemerintah," kata Ridwan Saidi kepada RRI, Kamis (27/02/2020).   

Ridwan sempat bercerita bahwa banjir berawal pada tahun 1640 dan itu disebutnya sebagai banjir bandang. Banjir bandang tersebut merupakan banjir yang besar sekali yang terjadi di Jakarta pada masa itu.

Pada zama dulu kelompok Belanda banyak mengubah-ubah sungai dan Arus kali, didaerah Utara juga banyak arus kali yang diubah, sehingga mengakibatkan 1640 banjir bandang. Banjir bandang itu diatasi dengan kapitan Tiongkok dulu, dan di tahun 1641 itu dibuat sodetan untuk mengatasi.

Tetapi penutupan penyerapan-penyerapan air di Jakarta tidak kunjung selesai dan terus dilakukan pembangunannya. Banyak lokasi-lokasi yang dari dulu itu ditutup untuk penyerapan air tersebut.

"Saya berharap pemerintah DKI tuh membuat peta air atas dasar peta yang dibuat pangeran pada akhir abad 15," jelas Ridwan.

Jadi harus membuat peta air dulu, karena banyak arus-arus air yang dibuang ke kolong aspal. Misalkan di depan RS Tarakan itu terdapat arus air dari Cisadane yang masuk pada kali Cideng dan buangan di kali Cideng sendiri terlalu kecil, karena model seperti itu banyak dibuat Belanda.

Sebenarnya masih banyak ruang untuk mengurangi masalah banjir ini, walaupun anggota DPRD dulu pernah bilang hanya tinggal 3% saja dan 97% nya itu sudah aspal. 

"Dulu kota ini jadi kota air tetapi sekarang jadi kota aspal," jelasnya kembali.

Ridwan juga setuju dengan cara pemerintah dalam menangani banjir dengan membentuk Pansus. Jika banyak yang menyalahkan Gubernur DKI maka memang seharusnya iya bisa menerima dan menjadikan itu sebagai kritik membangun sebagai konsekuensi ia sebagai pemimpin.

"Semoga bisa menjadi pemimpin yang tangguh, karena mampu menahan semua masalah walaupun semestinya tanggung jawab itu bukan ada pada pundaknya sendiri," jelasnya.

Ridwan hanya berharap pemerintah terus menanggapi dan terus mencari cara untuk terus mencegah dan mencari solusi untuk masalah banjir ini. 

"Pansus nantinya jangan hanya membantu mencari solusi, tetapi mencari fakta mengenai banjir yang ada di Jakarta," pungkasnya. (Foto:istimewa)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00