• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Anak Aniaya Bapak Kandung Pakai Martil, Ditangkap Polisi

24 February
22:56 2020
0 Votes (0)

KBRN, Lhokseumawe : Ruang Konferensi Pers Mapolres Lhokseumawe Senin (24/2/2020) tampak ramai wartawan dari berbagai media yang menanti penjelasan aparat kepolisian terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan seorang anak terhadap orang tua kandung sendiri.

Tindakan kriminal terhadap orang tua kandung dilakukan tersangka berinisial SF (30), warga Desa Mensah, Blang Kandang Muara Dua di awal Januari 2020 lalu.

Sambil memperlihatkan barang bukti berupa martil/palu yang digunakan SF untuk memukul ayahnya, Wakapolres Lhokseumawe Kompol Ahzan menjelaskan bahwa biasanya, kasus kekerasan dalam rumah tangga identik dengan para orang tua terhadap anak. Tapi kali ini agak berbeda, karena SF sebagai anak, yang memukul orang tuanya sendiri.

Pemukulan diawali pertengkaran mulut. karena korban tidak memenuhi permintaan upah kerja yang diinginkan tersangka. 

“Jadi tersangka meminta kepada korban agar membayarkan upah kerjanya membuat relif rumah di Panggoi, senilai Rp 2 juta pada korban,” terang Ahzan.

Pelaku yang tidak berkutik ketika dihadirkan dalam konfrensi pers mengaku melakukan tindak kriminal tersebut terhadap orang tua kandungnya hanya karena keinginannya tidak dipenuhi.

Sementara menurut pengakuan korban, ia sengaja tidak memberikan uang seperti yang diminta SF karena khawatir akan dibelikan narkoba jenis sabu atau daun ganja kering.

Setelah cekcok mulut, korban langsung berjalan ke luar rumah menuju parkiran sepeda motor.

Tanpa diduga, tersangka mengambil palu dan berlari langsung memukul ayahnya di bagian kepala serta dinding paru sebelah kiri, hingga mengalami luka memar dan lebam. 

Setelah kejadian itu, korban melaporkan anaknya itu ke polisi. Mengetahui ia dilaporkan, SF melarikan diri. Namun apa daya, ia berhasil ditangkap jajaran Reskrim Polres Lhokseumawe.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 5 tentang kekerasan dalam rumah tangga  yang  terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

00:00:00 / 00:00:00