• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Revitalisasi TIM Dinilai Janggal

20 February
23:06 2020

KBRN, Jakarta : Revitalisasi Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM) telah berjalan sejak menjelang akhir tahun 2019. Para Seniman menolak revitalisasi tersebut karena tidak pernah diajak berembug dan tim revitalisasi yang ditunjuk Gubernur DKI Jakarta dianggap tidak merepresentasikan Seniman TIM, karena selain prosedurnya tidak melalui dan/atau mewakili pemangku kepentingan TIM, juga gagasan-gagasan pembangunan TIM baru tidak pernah didiskusikan ke Pemangku Kepentingan yang ada di TIM.

Koordinator MADYA, Jhohannes Marbun telah menelaah lebih lanjut mengenai judul proyek “Revitalisasi TIM” juga mengandung kejanggalan-kejanggalan, sangat manipulatif, dan tidak mengacu pada regulasi atau kebijakan yang tepat. Dalam regulasi istilah ‘Revitalisasi’ hanya ditemukan dalam konteks kebijakan kebudayaan baik itu dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (disingkat UU CB No.11/2010) dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan (disingkat UU PK No.5/2017).

"Revitalisasi pada UU CB No.11/2010 acuan dasarnya adalah obyek tangible heritage atau warisan budaya bendawi. Sedangkan UU PK No.5/2017 acuan dasarnya adalah obyek intangible heritage atau warisan budaya tak bendawi," ujarnya kepada RRI, di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

"Jadi revitalisasi dalam konteks kebudayaan meliputi 2 (dua) hal yaitu revitalisasi fisik (bangunan) dan revitalisasi non fisik (non fisik, termasuk SDM). Revitalisasi diluar konteks kebijakan kebudayaan, tidak ditemukan. Secara terminologi, ruang kesenian dan/atau ruang kebudayaan sebagai representasi dari PKJ TIM, tentu tidak salah apabila menggunakan istilah atau nomenklatur revitalisasi didalam program/proyek kerjanya," lanjutnya.

Ia menunjukkan bahwa pada Pasal 1 angka 31 UU CB No.11/2010 menyebutkan bahwa Revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat. Selanjutnya pada pasal 80 UU CB No.11/2010 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa Revitalisasi potensi Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya memperhatikan tata ruang, tata letak, fungsi sosial, dan/atau lanskap budaya asli berdasarkan kajian (ayat 1) dan dilakukan dengan menata kembali fungsi ruang, nilai budaya, dan penguatan informasi tentang Cagar Budaya (ayat 2). Revitalisasi juga diharapkan memberi manfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mempertahankan ciri budaya lokalnya (pasal 82 UU CB No.11/2010).

Sedangkan dalam UU PK No.5/2017 Pasal 26 ayat 3 huruf a pada bagian penjelasan, yang dimaksud dengan “revitalisasi” adalah menghidupkan kembali Objek Pemajuan Kebudayaan yang telah atau hampir musnah.

00:00:00 / 00:00:00