• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Kasus DBD Sikka Naik, RS Kekurangan Tenaga Medis dan Dokter Juga Terjangkit

20 February
17:43 2020
0 Votes (0)

KBRN, Ende : Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sikka terus meningkat. Sampai Rabu, 19 Februari 2020 kemarin, sudah mencapai 690 kasus.

Sejumlah rumah sakit yang menangani pasien DBD, di antaranya Rumah Sakit (RS) TC. Hillers/Kewapante dan RS St. Elisabeth Lela, kewalahan menangani pasien, karena sangat kekurangan tenaga medis.

Bahkan dua orang dokter yang menangani pasien pun tengah dirawat akibat terserang penyakit Demam Berdarah.

Meski Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Kesehatan Provinsi NTT sudah menyatakan akan memberikan bantuan berupa dokter spesialis anak, spesial penyakit dalam, dan dokter spesialis patalogi klinis, namun Pemkab Sikka mengaku belum ada satupun dokter dimaksud tiba di Kabupaten Sikka.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Sikka, Verry Awelas mengatakan, terhadap kekurangan tenaga medis tersebut, Bupati Sikka memberikan arahan kepada Dinas Teknis terkait agar melakukan perekrutan tenaga medis yang dibutuhkan rumah sakit.

Meski sebelumnya pemerintah setempat telah menempuh cara memakai tenaga mahasiswa tingkat akhir dari perguruan tinggi kesehatan, namun tetap dibutuhkan lulusan yang profesional.

Perekrutan tenaga medis yang mendesak itu juga akan dibahas bersama DPRD Sikka untuk intervensi anggaran melalui perubahan APBD II.

"Justru yang janjikan itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, bahwa akan mendatangkan dokter spesialis, tetapi sampai saat ini belum ada juga. Di rumah sakit sekarang dokter anaknya yang terserang DBD sedang dirawat," kata Verry, Kamis (20/2/2020).

Sementara itu Anggota DPRD Sikka, Stef Sumandu mengatakan, pihaknya tentu siap untuk membahas penambahan anggaran bagi perekrutan tenaga medis.

Dirinya mengusulkan agar pemerintah daerah memanfaatkan tenaga sukarela yang banyak mengabdikan diri di puskesmas- puskesmas wilayah Sikka untuk ditempatkan di rumah sakit, karena selama ini sebagian besar tenaga kesehatan sukarela tersebut belum mendapat insentif daerah.

"Kami pada dasarnya siap. Tapi menurut saya, sebaiknya jangan lagi rekrut orang baru. Di Sikka ini kan tenaga sukarela banyak, sebagian besar mereka juga belum mendapat insentif daerah. Mungkin dengan kebijakan daerah bisa menempatkan mereka di rumah sakit," jelas Stef.

Ketua Fraksi PDIP tersebut juga mendorong Pemerintah Kabupaten Sikka agar membangun komunikasi dengan Pemerintah Provinsi NTT bahkan pemerintah pusat agar bisa mengintervensi anggaran untuk penanganan DBD di Sikka.

Menurutnya dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB), artinya DBD di Sikka sudah tergolong bencana sehingga butuh tindakan konkret dari pemerintah pusat bukan hanya sekedar pemantauan atau investigasi.

"Kami juga harapkan kepada pemerintah pusat dan provinsi, untuk mengintervensi anggaran menangani DBD di Sikka ini. Kalau sudah KLB kan artinya sudah termasuk bencana ini, jadi butuh tindakan konkret jangan hanya investigasi saja."

Kajian ilmiah secara mendalam menurut Stef juga perlu dilakukan oleh tim ahli, melihat setiap tahun Kabupaten Sikka tidak pernah absen dari kasus DBD.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00