• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Polres Madiun Kota Ringkus Penjual Obat Penggugur Kandungan

18 February
14:40 2020
0 Votes (0)

Polres Madiun Kota Ringkus Penjual Obat Penggugur Kandungan

KBRN, Madiun : Polres Madiun Kota berhasil mengamankan MS, warga Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo karena diduga mengedarkan obat yang tidak memiliki izin edar. Penggrebekan dilakukan jajaran Satlantas di toko pelaku di Jalan Raya Madiun-Ponorogo, Selasa (18/2/2020).

Kasat Reskrim Polres Madiun Kota, AKP Suharyono mengatakan, sebelum meringkus pelaku, kepolisian telah melakukan penyelidikan selama satu bulan untuk memastikan kandungan obat yang dijual. Bahkan, obat tersebut telah dilakukan pemeriksaan di laboratorium forensik di Surabaya, termasuk berkoordinasi dengan ahli kesehatan maupun BPOM.

Obat tersebut diketahui mengandung misoprostol atau obat lambung. Jika dikonsumsi secara berlebihan, obat tersebut dapat menghancurkan kandungan. Berdasarkan keterangan pelaku kepada aparat kepolisian, obat yang dijual berasal dari luar Kota Madiun.

“Bahwa obat tersebut memang memiliki dampak merusak atau melemahkan kandungan. Kalau digunakan secara berlebihan bisa menghancurkan kandungan, sehingga ketika kandungan tersebut rusak maka janin secara otomatis akan gugur dengan sendirinya. Itu berdasarkan keterangan ahli yang sudah kita lakukan pemeriksaan,” ungkapnya.

Sementara itu Kapolres Madiun Kota, AKBP R. Bobby Aria Prakasa menyatakan, saat penggerebekan, petugas berhasil mengamankan 9 paket obat penggugur kandungan di dua toko milik pelaku. Yakni di Jalan Raya Madiun-Ponorogo dan di Jalan Yos Sudarso, Kota Madiun. Adapun obat yang dijual terdiri pil dan kapsul.

Aksi tersebut sudah dilakukan pelaku sekitar dua tahun. Modus operandinya, pelaku menjual obat tersebut via online, kemudian mengajak ketemuan dengan pembeli dengan istilah Cash On Delivery (COD) atau membayar barang pesanan pada saat barang dikirimkan.

“Itu yang dijual adalah obat sebagai penggugur kandungan. Jadi ada juga obat-obat lain yang memang tidak memiliki izin edar. Rata-rata penjualannya via online, satu paket seharga Rp250 ribu. Kalau omsetnya kurang lebih sebulan itu Rp3-4 juta,” paparnya.

Atas tindakannya, MS dijerat pasal 197 UU No.36/2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Saat ini aparat kepolisian pun juga masih melakukan pengembangan atas perkara tersebut.


tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00