• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Ini Faktor yang Mempengaruhi Seseorang Lakukan Aborsi

18 February
09:31 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Kasus klinik aborsi ilegal di daerah Paseban, Jakarta Pusat menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Fakta terkuak ternyata banyak korban yang datang dan menggunakan jasa dari klinik ilegal ini.

Lalu apa penyebab para korban ini bisa datang dan berfikir untuk melakukan aborsi pada dirinya ? Mari kita bahas.

Dikutip dari Wikipedia Selasa (18/2/2020) Aborsi merupakan salah satu isu klasik yang selalu menarik diperdebatkan. Usia perdebatan mengenai aborsi sudah setua usia kehidupan manusia. 

Baca juga : Anggota DPR RI : Praktik Aborsi Jadi Kasus Menyedihkan

Polarisasi dari perbedaan pandangan ini adalah pembelaan secara ekstrem terhadap hak hidup janin atau pembelaan terhadap kepentingan perempuan yang mengandung. Aborsi karena kehamilan yang tak dikehendaki adalah isu yang kembali mengemuka.

Di samping persoalan kesehatan, aborsi sesungguhnya berkelit-kelindan dengan persoalan psikologi. Secara mental, perempuan yang memilih melakukan aborsi apapun alasannya, sedang mengalami kegalauan, rasa tidak percaya diri, kekhawatiran yang berlebihan, keputusasaan, atau bahkan penyesalan dan perasaan bersalah dan berdosa. Gangguan ini disebut Pasca Abortion Syndrom.

Komplikasi-komplikasi ini tidak jarang berujung pada kematian perempuan, atau cacat permanen. Belum lagi tekanan atas pilihan aborsi yang secara sosial dianggap sebagai tindak kriminil. Alih-alih mendapat dukungan dan penguatan untuk meringankan beban fisik dan psikis yang menerpanya, perempuan malah dicela dan dicaci atau bahkan dihukum penjara.

Baca juga : Praktik Aborsi, Polres Malang Kota Bekuk 5 Tersangka

Hasil penelitian lain juga menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku aborsi pada perempuan adalah karena adanya faktor ekonomi, faktor banyak anak dan faktor sosial. Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan Sarlito mengenai faktor penyebab aborsi. 

1. Faktor ekonomi yakni berkaitan dengan kemiskinan karena pelaku aborsi berasal dari status sosial ekonomi ke bawah. 

2. Faktor banyak anak terkait dengan jumlah anak yang dimiliki 

3. Faktor sosial terkait dengan takut kehamilan akan mengganggu pekerjaan, rasa malu dan rasa bersalah karena telah melakukan aborsi.

Tindakan aborsi yang dilakukan oleh banyak perempuan itu banyak caranya yaitu dengan meminum obat penggugur kandungan, ke klinik ilegal yang saat ini di perbincangkan hingga dengan penyedotan janin yang ada di dalam kandungan.

Apalagi saat remaja mengalami kehamilan yang tak diinginkan, baik karena pergaulan bebas ataupun akibat perkosaan, maka dia akan mengalami tekanan psikologis dari dirinya sendiri, orangtua, masyarakat, dan lingkungannya. 

Sementara yang telah diketahui bahwa ada regulasi yang melarang siswa menikah saat dia masih sekolah. Jika pun ini terjadi maka dia akan dikeluarkan dari sekolahnya dan dilarang melanjutkan studinya. Dengan demikian, aborsi menjadi satusatunya pilihan bagi remaja yang hamil di luar nikah.

Sampai saat ini pemerintah masih terus mengembangkanaturan-aturan perundang-undangan yang berlaku untuk mencegah praktik aborsi yang ada. (foto:istimewa)

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00