• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Fakta-Fakta Penyelamatan Buaya Berkalung Ban di Palu

18 February
09:15 2020

KBRN, Jakarta : Upaya penangkapan buaya berkalung ban yang berkeliaran di sungai Palu, Sulawesi Tengah, masih terus dilakukan.

Sejak terlihat pertama kali pada 2016, buaya berkalung ban sontak mengundang iba warga kota Palu. Pemberitaan lalu menyebar melalui media sosial, hingga viral dan berubah menjadi kepedulian yang mendorong upaya penyelamatan oleh otoritas penyelamat satwa liar di Indonesia. Namun upaya penyelamatan buaya berkalung ban tersebut, hingga awal Februari 2020 selalu gagal.

Bukan tanpa alasan kenapa banyak warga masyarakat bersikeras ingin menangkap buaya berkalung ban tersebut. Hal ini tak lain,  karena ban yang terperangkap di leher buaya tersebut bisa mengancam keselamatannya. Mengingat Buaya tersebut terus tumbuh besar. 

Buaya sendiri diketahui sebagai hewan yang dilindungi karena populasinya yang semakin berkurang. Buaya adalah hewan karnivora, atau hewan pemakan daging. Mereka memiliki gigi tajam yang digunakan untuk mencabik dan menghancurkan mangsanya. 

Reptil besar ini banyak hidup di daerah tropis Afrika, Asia, Amerika, dan Australia. Setidaknya ada 13 spesies buaya di dunia. Mulai dari yang terkecil berukuran panjang sekitar 1,7 meter dengan berat 6 hingga 7 kilogram, sampai yang terbesar dengan ukuran panjang 6,17 meter dan berat 907 kilogram.

Adapun Buaya berkalung ban yang telah viral ini, setidaknya memiliki beberapa fakta menarik tentang keberadaannya saat ini. Berikut kami rangkum, beberapa fakta tentang Buaya berkalung ban.

Sudah 4 Tahun Berkalung Ban

Buaya berkalung ban tersebut terlihat pertama kali pada tahun 2016. Ia sering terlihat berjemur di jam-jam tertentu. Ia muncul di sungai Palu hingga Teluk Palu.

Sudah 4 tahun berlalu, namun hingga kini Buaya tersebut masih tersangkut oleh ban yang membahayakannya. Keberadaanya membuat Buaya tersebut menjadi Viral.

Buaya Berkalung Ban Diduga Korban Orang Jahat ?

Penyebab Buaya berkalung ban di Sungai Palu, menjadi perhatian dunia yang belum terpecahkan. Namun Pihak BKSDA Sulteng dan pemerhati satwa meyakini, buaya tersebut sengaja dijerat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.  

Kalangan pemerhati satwa dan pihak BKSDA Sulteng dengan pendekatan pengamatan perilaku satwa, meyakini jeratan di leher buaya muara itu adalah ulah manusia secara langsung.

"Banyak yang bilang itu (ban di leher buaya) karena sampah di sungai. Tapi sulit menerima penjelasan itu. Kalau buaya bisa masuk secara tidak sengaja di lubang ban pasti mudah dia keluar, apalagi kalau ukuran tubuhnya lebih lecil dari ban," kata Ketua Komunitas Pencinta Reptil Palu, Gunawan, Kamis (13/2/2020).

Pihak BKSDA Sulteng juga menegaskan sebab yang sama. Kepala Wilayah I Konservasi BKSDA Sulteng, Haruna Hamma, menyeb ut jika Buaya masuk kedalam lingkaran ban dengan sendirinya adalah hal yang mustahil. Haruna menduga kuat, hewan malang itu sengaja dijerat dengan ban yang terikat tali oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 

hal itu agar Buaya tersebut tidak melarikan diri setelah ditangkap, namun akhirnya buaya itu dapat melarikan diri dengan ban yang masih mengalung di lehernya, sampai sekarang.

"Tidak mungkin masuk sendiri (ban di leher buaya) itu bukan perilaku buaya. informasi yang kami dapat dari warga pesisir, pernah ada warga yang menangkap buaya dan mengikatnya dengan ban dan tali. Itu menguatkan dugaan kami," jelas Haruna, Rabu (12/2/2020).

BKSDA gelar sayembara melepas ban di leher buaya

BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Sulawesi Tengah, sebelumnya sempat menggelar sayembara demi melepaskan ban di leher buaya malang tersebut. Bagi siapa saja yang berhasil melepaskan ban, mereka akan diberikan hadiah atau imbalan. 

Sayembara digelar karena pihak BKSDA mengaku tidak memiliki cukup personel untuk menemukan dan mengevakuasi buaya berkalung ban tersebut. Namun dikarenakan alasan sepi peminat, sayembara akhirnya dihentikan. 

Ahli Reptil Indonesia dan Dunia Turun Tangan

Selain upaya penyelamatan yang dilakukan oleh BKSDA dan pemerhati satwa setempat, terdapat ahli reptil Indonesia dan Dunia yang mencoba untuk menyelamatkan buaya berkalung ban ini. Muhammad Panji alias Panji Petualang, ahli reptil yang kini sering tampil di televisi bersama ular king cobra bernama Garaga juga pernah mencoba melakukan upaya penyelamatan. Namun tidak berhasil. 

Selain Panji Sang Penakluk, non-governmental organization (NGO) asal Australia juga pernah melakukan upaya yang sama namun tidak berhasil.

Terbaru Ahli buaya dan presenter National Geographic Wild, Matthew Nicolas Wright atau Matt Wright, bersama rekannya Chris Wilson, ikut turun tangan dalam pencarian dan penyelamatan buaya berkalung ban ini.
 
Alih-alih mendapatkan buaya berkalung ban, ia justru menangkap buaya lain berukuran 4 meter di sekitar Jembatan I Sungai Palu dan kembali dilepaskannya. 

Delapan hari melakukan pencarian berlalu, ia juga gagal menangkap buaya tersebut. Matt Wright akhirnya pamit kembali ke negaranya pada Senin kemarin (17/2). Meski begitu, ia berencana kembali ke Palu pada Mei 2020 mendatang dengan misi yang sama jika buaya belum berhasil diselamatkan. 

Upaya Pencarian dan Penyelamatan Dihentikan Sementara

Pada 17 Februari 2020, pihak BKSDA Sulawesi Tengah menghentikan sementara pencarian buaya berkalung ban tersebut. Pencarian tersebut dihentikan sementara dikarenakan perilaku buaya yang berubah-ubah. Mereka khawatir buaya akan menjadi agresif dan menyerang masyarakat. 

Meski demikian, sudah ada beberapa pihak yang mendaftar untuk menangkap buaya tersebut. Namun, pihak BKSDA belum memberi kesempatan karena mereka masih terbentur dengan perizinan.

00:00:00 / 00:00:00