• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Cabor

Pembiayaan Formule E Disebut Mahal, Jakpro: Mahal Jika Dibanding yang Gratis

15 February
12:55 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Direktur Utama PT Jakarta Propertindo, Dwi Wahyu Daryoto selaku penyelenggara Formula E Jakarta merasa informasi soal mahalnya pembiayaan event balap mobil listrik perlu diklarifikasi. Dia pun mengutip pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengatakan pembiayaan event ini disebut mahal jika dibandingkan dengan event yang tak menelan biaya sedikit pun. 

“Ini menurut saya harus diklarifikasi, selalu digembar gemborkan mahal, ya mahal tuh kalu dibanding dengan yang tidak ada biaya,” ungkap Dwi di Jakarta, Sabtu (15/2/2020).

Menurutnya, pembiayaan event ini tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Tapi secara keseluruhan ada pendapatan yang mungkin masuk ke dalam negeri. Misalnya sebanyak 2/3 dari total pembeliaan hak penyelenggaraan ini diklaim Dwi akan masuk kembali ke Indonesia. 

“Tapi kalo dilihat dari biaya pun terdiri dari berbagai macam, satu dari komitmen fee, hosting fee yang kita bayar mereka, ya beli hak itu pun 2/3 dari biaya itu akan di spending di Indonesia, mereka mengirim 2000 orang biayanya darimana? mereka membangun grandstand infrastruktur kemudian infrastruktur teknologi itu mereka semua bukan kita,” tutur Dwi.

Adapun yang menjadi tanggungan Jakarta sebagai tuan rumah, yakni menurut Dwi menyiapkan infrastruktur jalan yang akan digunakan, berikut dengan pagar pembatasnya. Infrastruktur yang dibangun pun kata Dwi bisa bertahan hingga 10 tahun lamanya.

“Nah, kita membangun yang barriernya, aspalnya dan segala macamnya, nah itu kurang kebih hampir 300 jutaan, nah infrastruktur ini apakah hanya digunakan sekali? Ya engga, ya saya basisnya akuntan bisa menghitung, yah alat ini kan 10 tahun, ini kan alat bisa dipake 10 tahun, oke kita sedang berkomitmen berkontrak dengan Formula E 10 tahun, ini kan juga tahun depan akan menggunakan biaya yang sama, apakah ada biayanya? Ga ada, yang ada mungkin overlaynya, aspalnya, itupun kalo dikupas lagi sekarang,” ucap Dwi.

Sehingga dia berpandangan, usai event balap mobil listrik ini selesai infrastruktur yang telah dibangun masih bisa dimanfaatkan. Misalnya untuk mendukung aktifitas para disabilitas yang ingin bertamasya ke ikon kota Jakarta, Monas.

“Tapi sih menurut saya jangan dikupas, sayang, karena kalo dikupas itu timbul lagi kobel stonenya di Monas itu, kobel stone itu saat kita brifing ada yang mengatakan salah satu temen-temen dari media, saya naik delman aja sakit, coba dipikirin mengenai temen-temen kita yang disable bayangin mereka naik di kursi roda diatas kobel stone, sampe sebrang monas aja mungkin rodanya udah somplak, ini maksud saya, ini bisa digunakan jangan dikupas,” imbuhnya.

Selain itu, infrastruktur maupun alat yang akan dimiliki Pemprov DKI Jakarta ini menurutnya juga bisa dimanfaatkan oleh komunitas Otomotif di Jakarta. Kebetulan kata dia, Jakpro juga memiliki kerjasama dengan salah satu komintas otomotif Ikatan Motor Indonesia (IMI).

“Dan alat-alat itu nanti itu bisa digunakan untuk kebetulan Jakpro punya kerjasama dengan IMI, nah setelah Formula E apakah alat ini bisa digunakan untuk IMI untuk aktifitas IMI pusat atau Jakarta untuk acara-acara mereka? Bisaaa,” tutup Dwi.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00