• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Rayakan Revolusi ke-41, Iran Harapkan Perkuat Hubungan dengan Indonesia

12 February
00:16 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Aksi saling berbalas pantun menjadi salah satu hal menarik, saat peringatan Revolusi Iran ke - 41 pada Selasa (11/2/2020) malam yang berlangsung di Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Kemahiran Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Azad dalam berbahasa Indonesia, ditunjukkannya dengan berkali-kali membacakan pantun sehingga membuat para tamu berdecak kagum. Seperti tak mau kalah, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, juga membacakan pantun ketika menyampaikan pidatonya.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam peringatan tersebut, diantaranya mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Rachmawati Soekarnoputri serta para Duta Besar negara sahabat. 

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian kedua negara, dalam momentum peringatan Revolusi Iran ke - 41 kali ini. 

Duta Besar Mohammad Azad mengatakan, pihaknya mengharapkan dunia internasional secara keseluruhan, bisa memandang Iran sebagai negara yang bermartabat dan berdaulat. "Saya rasa ini bukan permintaan yang berlebihan saya rasa semua negara di dunia termasuk Indonesia, menuntut agar kedaulatan, keutuhan dan martabatnya dijaga oleh negara lain. Dan, apabila ada persoalan harusnya bisa diselesaikan melalui negosiasi dengan mekanisme "win-win". Tapi,kelihatannya ada beberapa negara adidaya mereka tidak bisa mengikuti mekanisme ini. Mereka ingin agar hasil dari perjanjian adalah nol bukan sama-sama menang," ucap Azad ketika ditemui di sela-sela peringatan 41 tahun Revolusi Iran.

Menurut Azad, meski demikian Iran memandang khusus posisi Indonesia yang dinilai bisa menjalankan perannya dengan baik, terutama dalam konteks memperkuat hubungan dengan Iran di berbagai sektor. "Kami percaya bahwa Indonesia sebagai salah satu negara penting di ASEAN, salah satu anggota negara gerakan Non-Blok, dan salah satu negara penentu di bagian timur di Asia, tentu sangat memainkan peran di sini. Tentu Iran akan mendukung hal tersebut. Bagaimana mekanismenya bisa terjadi dibidang manapun, seperti budaya, politik, serta ekonomi," tambahnya.

Azad menambahkan, khususnya dibidang ekonomi dan perdagangan, pihaknya berharap pemerintah Indonesia bisa bekerja ekstra mempromosikan komoditas ekspornya. "Sehingga, kami tidak perlu ke pihak ketiga. Misalnya, untuk mengekspor kelapa sawit. Kami membeli kelapa sawit dari Malaysia. Meski demikian, kami tidak mengurangi porsi impor kelapa sawit dari Indonesia maupun Malaysia," terang Azad lagi.

Mewakili pemerintah Indonesia, Menko Airlangga Hartanto, menyebut, terjadi penurunan volume perdagangan jika dibandingkan antara periode 2018 dan 2019. "2018 nilai volume perdagangan RI-Iran, meningkat 3 kali lipat yaitu sebesar 715 juta USD. Sedangkan, tahun lalu menurun menjadi 141 juta USD," jelas Erlangga.

Airlangga menyatakan, untuk mendorong terbukanya kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara, sepakat untuk menandatangani Preferential Trade Agreement (PTA) yang ditargetkan pembahasannya rampung pada tahun ini. "Tapi saya percaya diri kerja sama ini akan semakin terbuka. Kami baru saja menandatangani PTA tahun ini dan kami akan menyelenggarakan Komisi Bersama dibidang ekonomi dan perdagangan ke - 13 bersama "counter part" saya kementerian informasi dan teknologi informasi tahun ini di Teheran," ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Arsul Sani, menilai kerja sama "Business to Business" perlu diperkuat oleh kedua negara, guna mendorong tercapainya kerja sama ekonomi dan perdagangan yang maksimal. ""G to G" tentu bagus, tapi yang masih harus dibangun adalah "B to B relation",  hubungan antara kalangan bisnis Indonesia dan Iran. Karena, saya lihat masih banyak peluang-peluang untuk meningkatkan nilai perdagangan kedua negara," ucap Arsul Sani.

Arsul Sani turut menyebut penting bagi Indonesia untuk bersikap netral dalam menyikapi ketegangan Iran bersama negara-negara Teluk."Nah, sebetulnya kita baik melalui "G to G" kemudian melalui "B to B" dan "P to P" itu bisa mengambil peran untuk paling tidak kalaupun tidak bisa mengakurkan, paling tidak melebarkan perbedaan. Karena, prisipnya adalah sama-sama negara Islam," jelasnya.

Sementara, kerja sama Indonesia-Iran juga menunjukkan adanya perbaikkan di sektor pariwisata. Dimana tingkat kunjungan turis Iran ke Indonesia pada 2018 mencapai 11,555 orang. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00