• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Kongres PAN Diwarnai Aksi Lempar Kursi, Emrus: Terjadi Ketidakdewasaan Berpolitik

11 February
15:22 2020

KBRN, Jakarta : Serentetan kericuhan dan saling lempar kursi, terjadi dalam Kongres ke V Partai Amanat Nasional (PAN) yang digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Mulai sejak pendaftaran calon ketua umum periode 2020-2025, hingga pelaksanan kongres.

Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), DR. Emrus Sihombing melalui keterangan tertulisnya yang diterima RRI Pro3, Selasa (11/2/2020) justru menilai dalam aksi tersebut, setidaknya menyampaikan dua 'pesan' sekaligus kepada masyarakat.

Dua pesan yang dimaksud Emrus yakni: Pertama, ketidakdewasaan politik. Peristiwa yang sangat memprihatinkan ini menyampaikan makna kepada publik bahwa secara umum di PAN sedang terjadi ketidakdewasaan berpolitik, dan secara khusus bagi para politisi yang melakukan tindakan saling melempar kursi di ruang kongres. 

"Suka tidak suka, kejadian ini bisa menimbulkan penilaian publik atau rakyat Indonesia bahwa PAN belum mejadi partai yang dapat menyelesaikan persoalan atau perbedaan politik antar faksi di PAN secara elegan dan dewasa," ujarnya.

Perilaku saling melempar kursi tersebut, menunjukkan bahwa para politisi di PAN masih bertindak yang didominasi oleh emosi. Padahal, fungsi sebuah partai memberikan teladan, pendidikan dan kedewasaan politik kepada masyarakat yang sekaligus merupakan wadah untuk melahirkan pemimpin legislatif dan eksekutif yang mumpuni.

Menurut Emrus, mereka yang saling melempar kursi tersebut belum memenuhi syarat sebagai anggota dan kader sebuah partai moderen dan sekaligus belum layak mejadi pemimpin publik baik sebagai anggota legislatif maupun pimpinan eksekutif.

"Karena itu, pendewasaan politik dan demokrasi di internal PAN harus menjadi agenda yang sangat utama, siapa pun yang terpilih memimpin PAN lima tahun ke depan," kata Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner itu.

Kedua, turunnya kredibilitas para tokoh di PAN sebagai panutan. Kejadian saling melempar kursi ini, lanjut Emrus, sekaligus memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kredibilitas para tokoh yang ada di PAN masih belum sepenuhnya menjadi rujukan.

Akibatnya, kongres sebagai wadah pengambilan keputusan tertinggi telah dinodai oleh tindakan yang tidak terpuji dengan saling melempar kursi oleh sebagian orang yang ada di sana.

"Pertanyaan kritis, kenapa itu bisa terjadi? Tentu, orang yang melakukan tersebut sudah tidak menghargai kredibilitas para tokoh yang ada di PAN itu sendiri. Akan lain halnya, bila salah satu atau beberapa tokoh di PAN masih kredibel di mata mereka, maka kejadiaan saling melempar kursi tidak akan terjadi," tambah Emrus.

Dirinya mengingatkan bahwa kredibilitas tokoh di suatu partai politik sangat ditentukan oleh perilaku keseharian para tokoh tersebut ketika berelasi dan atau menangani berbagai persoalan di internal partai. Jika para tokoh menunjukkan kredibikitas kepemimpinannya, maka tokoh tersebut dipastikan akan dihargai dan dihormati oleh semua anggota dan atau kader partai. 

"Lain halnya bila yang terjadi penilaian yang sebaliknya dari anggota dan atau kaader partai terhadap para tokoh di suatu partai, maka salah satu bentuk perilaku dari para pengikutnya melakukan tindakan saling melempar kursi di dalam suatu kongres," katanya.

Jadi, masih menurut Emrus, peristiwa yang terjadi Kongres V PAN tersebut tidak hanya evaluasi bagi para pelakunya, tetapi yang sangat penting merupakan introspeksi mendalam bagi para tokoh yang ada di PAN itu sendiri.

"Sebab akibat aksi lembar kursi itu sangat-sangat tidak menguntungkan bagi perjalanan politik PAN dalam menghadapi kontestasi politik ke depan dan juga pelaksanaan kongres itu sendiri," pungkas Emrus.

00:00:00 / 00:00:00