• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Citizen Journalist Hilang Usai Posting Keadaan Wabah Coronavirus di Wuhan

10 February
23:01 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Seorang Citizen Journalist, warga yang telah melaporkan wabah Coronavirus dikabarkan hilang. Ini mendorong klaim bahwa ada yang sengaja membungkam pelapor epidemi Coronavirus lainnya.

Chen Qiushi, seorang pembela hak asasi manusia, dinyatakan hilang sejak Kamis kemarin, atau pada hari yang sama dengan Li Wenliang, seorang dokter spesialis mata berusia 34 tahun yang dihukum oleh pihak berwenang Tiongkok karena berusaha memperingatkan rekan-rekan dan teman-teman tentang kemunculan sel epidemi baru bernama Coronavirus (masih satu keluarga dengan SARS). Li akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat virus tersebut.

Kabar terakhir, Chen pergi mengunjungi rumah sakit Kamis lalu, dan teman-teman serta pihak keluarga belum dapat menghubunginya hari kepergiannya itu. Ibu dari Chen mengklaim, anaknya dikarantina secara paksa. 

"Saya ibu Chen Qiushi. Tolong, teman online dan terutama yang di Wuhan, tolong bantu saya dan temukan Chen Qiushi dan cari tahu apa yang terjadi padanya," katanya dalam video yang diposting di halaman akun Twitter Chen. Demikian dikutip The Guardian, Senin (10/2/2020).

Hilangnya Chen terjadi ketika pemerintah Cina berjuang untuk menahan kemarahan publik atas penanganan virus tersebut. Namun Kemarahan publik justru telah mencapai tingkatan setelah kematian Li.

BACA JUGA: Li Wenliang, Dokter Penemu Kemunculan Coronavirus Pertama Kali dan Tewas

Chen, yang memiliki lebih dari 200.000 pengikut di Twitter dan lebih dari 400.000 pelanggan di saluran Youtube pribadinya, telah memposting pembaruan rutin dari Wuhan, dimana ia mengunjungi rumah sakit dan berbicara dengan pasien dan dokter. Seperti Li, ia dilihat oleh publik sebagai warga negara biasa yang berusaha membantu orang lain.

Para pengguna internet yang mendukung Chen menuduh pemerintah Tiongkok berusaha memberangus warga yang berusaha memberi tahu masyarakat tentang kondisi sebenarnya di Wuhan. Banyak komentar tentang Chen tampaknya telah dihapus.

"Chen Qiushi tidak bisa menjadi Li Wenliang yang lain! Tiongkok harus membiarkan orang berbicara,” tulis seorang pengguna internet di Weibo.

"Tidak ada pahlawan super di dunia ini, hanya orang biasa yang berdiri (untuk rakyat)," kata yang lain menambahkan.

"Bunuh aku dan sepuluh ribu versi lain dari diriku akan keluar," kata netizen yang berbeda.

Kemudian ada pula warganet di China yang mengutip naskah dari film garapan sutradara Hong Kong, Stephen Chow.

"Jangan bernyanyi untuk yang berkuasa tetapi untuk publik," kata beberapa komentator lainnya, mengutip seorang penulis Taiwan.

BACA JUGA: Nasib Jiang Yanyong, Dokter Penemu Kemunculan SARS Pertama Kali

Seorang teman Chen, yang telah memperbarui halaman Twitter-nya untuk menarik perhatian atas kepergiannya, juga berkomentar tapi meminta untuk tidak disebutkan namanya. 

"Saya khawatir tentang keselamatan pribadinya dan saya juga khawatir tentang kesehatannya," ucap temannya Chen tersebut.

Sebelumnya, Chen juga pernah ditahan akibat memposting video demonstrasi Hong Kong. Kemudian, ia melanjutkannya dengan melaporkan keadaan sebenarnya kota Wuhan dalam serangan wabah Coronavirus baik dari rumah sakit, sampai keadaan di jalan-jalan dalam kota sejak 23 Januari lalu.

Dalam videonya, Chen nampak hanya menggunakan masker dan kacamata. Sementara wartawan media pemerintah lainnya mengenakan pakaian safety epidemi secara lengkap.

Dalam sebuah video yang diposting pada 30 Januari, Chen menggambarkan ia mengunjungi rumah sakit yang penuh dengan pasien sakit, kebanyakan dari mereka menggunakan tangki oksigen dan ada banyak juga dari mereka berbaring di koridor. 

Video tersebut juga mencakup cuplikan seorang wanita dengan lengannya yang dililitkan seorang lelaki yang baru saja meninggal di kursi roda ketika dia mencoba memanggil seseorang untuk membawanya pergi.

"Saya takut, di depan saya ada penyakit. Di belakang saya ada kekuatan hukum dan administrasi China. Tetapi selama saya hidup, saya akan berbicara tentang apa yang telah saya lihat dan apa yang saya dengar. Saya tidak takut mati. Kenapa aku harus takut padamu, Partai Komunis?" tegasnya.

Sumber : Lily Kuo di Hong Kong (The Guardian)
Sumber Tambahan : Lillian Yang (The Guardian)
Foto/Ilustrasi : YouTube

00:00:00 / 00:00:00