• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Resesi Global Mengintai Saat Ekonomi Tiongkok Melambat Akibat Coronavirus

10 February
17:11 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Dengan keadaan penyebaran, infeksi, serta korban wabah Coronavirus yang memburuk, industri Tiongkok yang banyak berpusat di Wuhan, mulai lumpuh untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

Keadaan ini sangat mengkhawatirkan, mengingat China memegang kendali dan pengaruh besar terhadap ekonomi dunia. Lantas, sektor industri global mana saja yang dianggap rentan terhadap dampak 

Sektor pertama yang menarik dari dampak wabah Coronavirus adalah industri perjalanan dan pariwisata, yang biasanya menikmati booming selama periode liburan tahun baru atau Imlek.

Penerbangan dibatalkan dan pemesanan hotel baik di China maupun seluruh wilayah Asia yang tergantung pada wisatawan asal Tiongkok, telah merilis larangan perjalanan ke dan dari kota-kota besar di pusat China. Dan negeri tirai bambu sendiri juga membatalkan untuk penerbangan dari China daratan ke Hong Kong. 

Maskapai penerbangan telah mengurangi layanan, Cathay Pacific berencana untuk mengurangi jumlah penerbangan selama beberapa pekan mendatang dan telah mendorong staf untuk mengambil cuti berminggu-minggu tanpa dibayar.

Neil Shearing, kepala ekonom di Capital Economics mengatakan, jumlah penumpang telah turun 55% dibandingkan periode tahun baru pada 2019. 

"Dan mengingat bahwa turis Tiongkok menghabiskan banyak waktu dan uang di negara-negara Asia, biaya larangan perjalanan akan terasa di seluruh wilayah (secara global)," ucap Shearing, seperti dilansir The Guardian, Senin (10/2/2020).

Jika krisis berlanjut, efek global akan dapat diraba. China melakukan 173 juta kunjungan dalam 12 bulan hingga akhir September tahun lalu dan bersama-sama mereka menghabiskan lebih dari seperempat triliun dolar, lebih banyak dari turis negara manapun di dunia ini. Tetapi sektor pariwisata hanyalah awal bencana ekonomi. 

Perlu dicermati, seluruh rantai pasokan seperti sektor industri otomotif, elektronik, industri, bakal mengalami gangguan terbesar sepanjang sejarah. Buktinya, perusahaan pelayaran sudah melaporkan penurunan tajam dalam volume kontainer. Kenapa demikian? Karena sebagian besar pabrik industri yang digunakan penduduk dunia ada di Tiongkok. 

China juga memiliki pasar domestik yang besar untuk ritel, makanan, dan minuman. Salah satu indikator yang benar-benar menandakan ekonomi mereka tergelincir tajam adalah pekan lalu, ketika harga kopi hancur lebur akibat isu Coronavirus. 

Starbucks yang memiliki 4.000 outlet di China, mengambil keputusan penting, yakni menutup separuh dari jumlah itu akibat menyebarnya wabah Novel Coronavirus.

Bagaimana Pasar Saham dan Indikator Kunci Lainnya?

Pasar saham Asia mengalami pekan yang naik-turun, jatuh lebih awal karena kemerosotan di ritel, layanan konsumen dan bisnis transportasi, sebelum pulih di tengah harapan bahwa wabah virus dapat diatasi. Pasar Barat (Eropa) sebagian besar mengikuti.

Tetapi harga minyak juga berada di bawah tekanan, di tengah antisipasi perlambatan permintaan global, seperti halnya bahan baku lainnya. China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia dan juga konsumen besar logam seperti tembaga dan bijih besi. Bayangkan penurunan saham yang terjadi.

Perusahaan perjalanan, pembuat mobil dan gerai produk mewah termasuk di antara sektor yang berubah menjadi paling tidak stabil dalam rentetan krisis yang mengintai. Kerugian secara ekonomi? Itu tidak bisa dihindari akan terjadi.

Pada 2002 sampai 2003, wabah SARS menyebar hampir tidak terkendali ke 37 negara, menyebabkan kepanikan global, menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan sekitar 750 orang. 

Ada perkiraan yang menyebutkan bahwa kerusakan dari SARS berkisar antara US$ 30 miliar dan US$ 50 miliar, sebuah jumlah yang besar, dengan perbandingan PDB global yang cukup signifikan.

Saat ini, Coronavirus menyebar dengan kecepatan enam kali lebih cepat daripada SARS, sebagian besar melalui kontak manusia antara orang-orang yang belum menunjukkan gejala. China yang sekarang memiliki strategi ekonomi jauh lebih terbuka daripada 2002 silam ketika SARS menghantam mereka. Sehingga gangguan ekonomi akibat Coronavirus diperkirakan akan lebih besar daripada yang disebabkan oleh SARS.

Perusahaan Mana di Dunia yang Paling Parah Terdampak Kemerosotan Ekonomi China?

Banyak perusahaan global mengandalkan pemasok yang berbasis di Cina. Misalnya, 290 dari 800 pemasok Apple berbasis di Cina dan negara tersebut bertanggung jawab atas 9% produksi TV global. 

Menurut indeks Resilience 360 ??DHL, 50% dari semua manufaktur di Wuhan terkait dengan industri otomotif dan 25% untuk pasokan teknologi dari wilayah tersebut.

BACA JUGA: Coronavirus Ganggu Ekonomi Global, Ulangi Dampak Perang Dagang China-AS

Eksekutif otomotif di Eropa dan AS memperingatkan, stok mereka hanya untuk beberapa pekan lagi. Sementara, Hyundai telah menutup operasinya di Korea Selatan karena kurangnya pasokan suku cadang dari China saat merebaknya wabah Coronavirus.

Untuk menunjukkan betapa terintegrasinya beberapa perusahaan asing di China, pembuat gelas dan keramik AS Corning telah membangun 19 pabrik di seluruh daratan dan memiliki lebih dari 5.000 karyawan di Tiongkok. Perusahaan ini berencana untuk meningkatkan produksinya setelah menghabiskan investasi US$ 1 miliar pada fasilitas guna menambah produksi generasi 10,5 inch kaca hitam canggih yang digunakan untuk panel LCD. Tapi dengan keadaan sekarang ini? Rumit sekali untuk melanjutkannya, tapi investasi sudah terlanjur ditanam.

Perusahaan Apple juga dipasok dari pabrik-pabrik di China dan memiliki jaringan 42 toko Apple di Tiongkok, yang katanya tutup hingga 9 Februari. Pengecer AS lainnya dari Starbucks dengan 4.200 toko, lantas perusahaan Levi's juga telah menutup toko mereka.

Negara Mana Saja yang Akan Terdampak?

Asia Tenggara dinilai paling banyak terpapar akibat krisis wabah ini. Pasalnya, ekonomi mereka banyak sekali terikat dengan Tiongkok. Perlu diingat bahwa krisis keuangan terburuk pascaperang Asia pada 1997 sampai 1998 juga sebagian akibat devaluasi mata uang China.

Jepang mungkin punya keadaan ekonomi yang lebih kaya, tetapi juga ikut terbawa suasana. China adalah pembeli terbesar mesin-mesin industri Jepang, mobil-mobil dan truk-truknya serta barang-barang konsumen yang berteknologi maju. 

Gantian, suku cadang buatan China juga masuk ke pabrik-pabrik Jepang. Dengan pembatalan penerbangan, perjalanan laut, serta terganggunya impor-ekspor Tiongkok, Jepang bisa dirunsung masalah seperti rekan-rekannya di Asia Tenggara.

Ditambah juga ada jutaan turis Tiongkok yang mengunjungi Jepang, tetangga sebelah timur mereka setiap tahunnya. Namun sekarang, negeri samurai biru sudah bersiap-siap membatalkan kunjungan wisata 400.000 orang pada kuartal pertama 2020.

Ekonomi Australia juga saling terkait erat dengan China. Perdana Menteri (PM) Scott Morrison sudah memperingatkan pekan lalu tentang "beban nyata pada ekonomi". Bahkan universitas-universitas Australia menderita karena mahasiswa China yang kembali untuk mendaftar pada tahun akademik baru jauh lebih sedikit. Dunia pendidikan di Australia ikut terdampak.

Adakah Kemungkinan Inggris Bisa Terpengaruh?

Inggris, seperti negara-negara Eropa lainnya, juga berada dalam posisi membatasi arus pengunjung China, meskipun pusat perbelanjaan outlet desainer seperti Oxfordshire's Bicester Village akan melihat penurunan yang parah jika pengunjung Tiongkok menghilang untuk waktu yang lama.

Dampak yang lebih luas akan terasa jika perdagangan global mulai melambat. Inggris terhubung ke semua ekonomi besar dan untuk alasan itu,  ibarat flu, Inggris akan 'masuk angin' jika ekonomi global 'bersin'. 

Tahun lalu saja, manufaktur Inggris mengalami resesi sebagai tanggapan terhadap perang tarif antara AS dan China, yang melanda perdagangan global.

Bisakah apa yang terjadi di Inggris ikut membuat ekonomi AS tergelincir? Atau berpengaruhkah pada proses pemilihan umum di sana musim gugur ini? Ada bukti bahwa dampak virus bisa menjadi 'riak' bagi bisnis-bisnis kecil Amerika di dunia dan dalam negerinya sendiri.

Perusahaan-perusahaan AS mungkin mengalami kesulitan untuk mengakses komponen bagi barang-barang manufaktur mereka. Itu dinilai bisa menjerumuskan kembali sektor manufaktur yang sebenarnya baru saja pulih dari resesi panjang yang diderita tahun lalu. 

Penutupan pabrik di negara bagian AS, Ohio dan Pennsylvania, dapat menyebabkan masalah bagi kampanye pemilihan ulang Trump, yang sangat bergantung pada membawa pekerjaan industri ke semua negara bagian itu. Tapi November masih sembilan bulan lagi, dan masih terlalu jauh untuk mengatakan apakah efek virus akan bertahan selama itu hingga mengganggu proses pemilihan umum di negeri paman sam.

Jadi Apa Dampak Keseluruhan Terhadap Ekonomi Global?

Christian Keller, kepala penelitian ekonomi di Barclays, mengatakan bahwa dampak pada ekonomi dunia dapat berkisar dari hampir tidak ada perubahan pada perkiraan pertumbuhan global saat ini sebesar 3,3% untuk 2020 hingga pertumbuhan sekitar 3%. 

Ada peringatan besar, jika virus terus menyebar dan aktivitas China terus saja terganggu selama berbulan-bulan, kontraksi ekonomi global bukan tidak mungkin akan terjadi. Ditambah juga keadaan bank sentral yang saat ini minim amunisi moneter yang efektif digunakan untuk keadaan darurat.

"Ada risiko bahwa mekanisme umpan balik yang merugikan dan ruang terbatas untuk respons kebijakan dapat mendorong ekonomi global menuju resesi," kata Keller.

Sumber : Phillip Inman, Editor Ekonomi/TheGuardian
Foto/Ilustrasi : Karyawan pabrik seluler di Tiongkok/Aleksandar Plavevski/EPA/The Guardian

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00