• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Coronavirus Ganggu Ekonomi Global, Ulangi Dampak Perang Dagang China-AS

10 February
16:37 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Peran China sangat penting bagi ekonomi global. Dampak krisis wabah Coronavirus dinilai bisa juga menyebabkan efek penurunan secara domino bagi perekonomian negara lain.

Menurut update hari ini, jumlah korban meninggal dunia akibat wabah Novel Coronavirus terus bertambah di China, mencapai di atas 900 orang meninggal dunia, atau hampir menembus 1.000 orang!

Jumlah korban jiwa melonjak ke angka 900 lebih setelah provinsi Hubei, Tiongkok melaporkan 91 kematian baru. Demikian dilansir AFP, Senin (10/2/2020).

Dalam laporan hariannya, komisi kesehatan Hubei juga mengkonfirmasi 2.618 kasus baru di pusat provinsi, dimana wabah tersebut muncul pada Desember 2019 lalu. Sudah menginfeksi sekitar 40.000 orang dan menyebar di lebih kurang 30 negara dunia.

Mengingat China sangat penting bagi ekonomi global, efek riak dari wabah ini bisa berubah menjadi ombak dan bertahan lama.

Mengapa China Sangat Penting Bagi Ekonomi Global?

Lonjakan ekonomi China yang luar biasa selama 40 tahun terakhir telah menjadikannya sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, dengan PDB US$ 13,6 triliun atau setara dengan £ 10,4 triliun poundsterling. Sementara PDB Amerika Serikat (AS) ada di angka US$ 20,5 triliun. 

Dengan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 7% lebih, hal tersebut dinilai jauh melampaui kapasitas ekonomi sebuah negara maju modern.

China mencapai posisi ini setelah berhasil menggeser posisi AS sebagai tumpuan perdagangan global. Tiongkok dengan Ibu Kota Beijing-nya adalah pedagang barang dagangan terbesar di dunia, dan dengan cepat menyaingi AS dalam layanan komersial menyusul lonjakan pertumbuhan 18% pada 2018. 

Praktik yang telah lama dilakukan dalam mencari sumber komponen dan widget dari perusahaan-perusahaan China, dan pasar domestik yang luas serta terus berkembang di negara itu, telah mendorong ribuan bisnis asing membuka pabrik mereka di daratan China, bergabung dengan jaringan distribusi lokal, sampai membuka toko untuk retail.

China juga merupakan pusat dari beragam rantai pasokan global, karena sebagian besar bahan mentah dunia harus dikirim ke pabrik yang berada di Cina sebelum kemudian diubah menjadi produk manufaktur. 

Pertempuran dagang dengan AS tahun lalu mengenai tarif impor barang-barang bernilai miliaran dolar telah menggambarkan pengaruh kekuatan ekonomi Tiongkok bisa mengganggu stabilitas ekonomi global dari pertentangannya dengan AS tersebut.

Bagaimana Virus Bisa Mempengaruhi Kegiatan Ekonomi di China?

Sebagian besar industri di China tutup selama dua pekan sejak awal Imlek atau Tahun baru China akibat merebaknya Novel Coronavirus. Mayoritas pabrik diperkirakan tidak akan dibuka lagi sampai waktu yang tak bisa ditentukan, bahkan beberapa telah menunda pembukaan hingga 14 Februari mendatang sebagai tindakan pencegahan, karena puluhan juta orang masih terkurung isolasi di banyak kota seluruh Tiongkok.

Pembuat mobil menutup pabrik, outlet kopi ditutup dan pelabuhan jauh lebih tenang dari biasanya. Usaha kecil dan menengah, yang beroperasi dengan kontrak jangka pendek dan dengan cadangan finansial serta fisik yang kecil, diketahui sudah dalam kesulitan. 

Banyak laporan dari daerah di seluruh wilayah bagian tengah Tiongkok, mengabarkan bahwa para petani mulai kehabisan makanan untuk hewan ternak mereka.

Wuhan, sebuah kota berpenduduk sekitar 11 juta orang dan pusat wabah Coronavirus, merupakan pusat industri besar, pusat regional, roda penggerak penting dalam industri otomotif dan magnet bagi perusahaan asing. Di sana juga menjadi basis pendidikan dan ilmiah terbesar ketiga di China, dengan dua universitas urutan 10 besar global. 

Dengan semua kenyataan tersebut, mustahil untuk berpikir bahwa wabah virus mematikan saat ini tidak akan berdampak besar pada output ekonomi. Presiden Cina, Xi Jinping, bahkan mengakuinya sendiri pekan lalu. Sebagai tanggapan, pihak berwenang menggandakan upaya untuk menopang perekonomian, memangkas tarif impor AS, dan membuat pinjaman lebih murah untuk bisnis dan konsumen.

Jadi Apa Dampak Keseluruhan Terhadap Tiongkok?

Ekonomi Tiongkok tumbuh sebesar 6% pada 2019, demikian menurut badan statistik resmi Beijing, yang merupakan tingkat terendah selama hampir 30 tahun dan penurunan besar dari 10,2% yang dicapai pada 2010. 

Ada harapan bahwa pada 2020 akan terbukti menjadi periode pemulihan setelah perang dagang yang berkepanjangan selama 2019 dengan pemerintahan Trump, AS.

Akan tetapi Coronavirus membuat harapan pemulihan menjadi tidak mungkin terjadi. Sebagian besar analis masih memperkirakan pertumbuhan jauh di atas 5% untuk ekonomi Tiongkok, berdasarkan apa yang diketahui sejauh ini tentang penyebaran virus, dan kemungkinan dampaknya pada konsumen, bisnis dan pemerintah.

Akan tetapi, Zhang Ming, seorang pejabat di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, menuturkan sebuah kenyataan yang lebih pahit. Kepada Majalah Caijing ia mengutarakan keprihatinannya bahwa akan terjadi penurunan PDB dari perkiraan terendah 5% itu.

"Pertumbuhan PDB pada kuartal pertama 2020 bisa sekitar 5%, dan kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan jatuh di bawah 5%," demikian kata Ming kepada Caijing, seperti dikutip The Guardian, Senin (10/2/2020).

Kepala ekonom Enodo Economics, Diana Choyleva bahkan memperingatkan bahwa akan terjadi sebuah skenario terburuk dari guncangan ekonomi China yaitu sebuah kontraksi ekonomi. Dan itu sangat menyakitkan buat Tiongkok serta bagi dunia keseluruhan.

Terpenting harus diingat menurut Choyleva adalah, buat investor yang berharap dari rebound ekonomi dalam menentukan apa yang terjadi setelah wabah Coronavirus, tentu akan kecewa. 

Choyleva juga menunjuk pada tunggakan hutang cukup lama yang menimpa industri-industri yang dikelola pemerintah, sebenarnya telah menjadi hambatan pada pertumbuhan selama beberapa tahun. 

Bank sentral China telah mulai memompa dana tambahan ke dalam sektor ekonomi untuk mempertahankan pinjaman. Tapi pada bagian lain, wabah virus itu terus bertahan memperburuk keadaan. Tambahan dana yang dimaksudkan diperkirakan guna meningkatkan investasi bisnis, serta untuk menjaga perusahaan-perusahaan supaya tidak bangkrut.

Sumber : Phillip Inman, Editor Ekonomi/TheGuardian
Foto/Ilustrasi : Kapal Cargo bermuatan kontainer masuk pelabuhan Qingdao, Tiongkok/STR/AFP via Getty Images/The Guardian

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00