• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Cubicost Jadi Jawaban Hadapi Industri Konstruksi 4.0

30 January
20:36 2020
1 Votes (5)

KBRN, Sanur : Building Information Modeling (BIM) menjadi salah satu teknologi dibidang arsitektur, engineering, dan konstruksi (AEC). Teknologi ini mampu mensimulasikan seluruh informasi proyek pembangunan kedalam model 3 dimensi. 

Di dunia termasuk Indonesia, teknologi BIM telah berkembang sangat pesat. Kondisi itu sekaligus menjawab tantangan menghadapi era industri konstruksi 4.0. 

Salah satu software yang mengimplementasikan teknologi BIM adalah Cubicost. Cubicost yang dikembangkan Glodon Costing Solution terdiri dari empat produk perangkat lunak berbasis BIM yaitu TAS, TRB, TME, dan TBQ. 

Account Manager PT. Glodon Technical Indonesia, Bagas Dewantara menjelaskan, Cubicost dapat dipakai pada tahap tender, maupun ketika memasuki fase construction/ongoing project. Sejauh ini, software yang masuk Indonesia sejak tahun 2015 itu sudah digunakan 170 perusahaan, terdiri dari developer, konsultan, dan kontraktor. Bahkan seluruh perusahaan BUMN (badan usaha milik negara) yang bekecimpung dibidang jasa konstruksi disebut telah memanfaatkan software ini. 

"Untuk di Bali sendiri yang sudah pakai Cubicost, ada Tunas Jasa Sanur Group dan Nusa Raya Cipta Bali," ungkapnya kepada wartawan di Sanur, Kamis (30/1/2020). 

Khusus di Bali, Bagas mengakui, Tunas Jaya Sanur Group menjadi perusahaan pertama yang menyongsong industri konstruksi 4.0 dengan menggunakan Cubicost. Strategi itu diwujudkan dengan proses aplikasi, dan pengenalan software. Pengenalan software Cubicost secara khusus dikemas dalam BIM Seminar bertajuk "Bekerja Efektif dengan Teknologi BIM". Seminar itu diikuti 60 peserta dari Tunas Jaya Sanur Group dengan tingkatan project manager, site manager, site engineer, dan QS project. 

"Tujuannya apa? Satu, karena mereka sama sekali buta terkait BIM ini. Dan sekadar informasi, ini data tahun 2019 ya, 99 persen pembangunan/konstruksi di China itu sudah menggunakan software BIM, di Hongkong angkanya sudah diatas 90 persen, di Singapura, dan Malaysia itu sudah diatas 80 persen. Di Indonesia ini angkanya baru sekitar 25 sampai 30 persen," ucapnya. 

Bagas berharap, dengan pengenalan Cubicost secara mendalam, akan mengatrol pemanfaatan teknologi BIM pada proses konstruksi di Indonesia. Karena dalam prakteknya, software ini memiliki keunggulan dari berbagai sisi. 

"Misalnya untuk menghitung kebutuhan beton untuk satu lantai? Mereka yang menghitung menggunakan metode konvensional dengan excel butuh waktu 3 hari. Sedangkan dengan Cubicost selesai 3 jam. Artinya keunggulannya, satu adalah efisiensi waktu. Kita bisa klaim efiensi waktu kita 75 sampai dengan 100 persen. Bahkan user Tunas Jaya Sanur Group sudah membuktikan, penggunaan Cubicost lima kali lebih cepat dibandingkan yang metode konvensional," ujarnya. 

"Kelebihan lain adalah akurasi. Akurasi kita 100 persen berdasarkan gambar. Yang ketiga kita punya reverse check, artinya kita mengurangi human error. Keunggulan keempat yaitu calculation rules dan formula itu sudah ada di software. Jadi kalau pakai software itu langkahnya gampang, yaitu gambar 2 dimensi, masukin ke Cubicost, kita identifikasi, secara otomatis tergenerate model 3 dimensinya," pungkas Bagas. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00