• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Sempat Gangguan Jiwa, Anak Bunuh Ibu Kandungnya di Sragen Tetap Diproses Hukum

29 January
21:38 2020
0 Votes (0)

KBRN, Sragen : Hendriyanto (36), warga Dukuh Barong RT 06, Desa Pendem Sumberlawang yang membunuh ibu kandungnya awal Januari lalu tetap dijadikan tersangka kendatipun memiliki riwayat gangguan jiwa. Hasil keterangan dokter jiwa, pelaku saat melakukan pembunuhan ibu kandungnya dalam kondisi sehat dan sadar.

"Tersangka tetap diproses dengan  338 pembunuhan. Kami sudah melakukan observasi kepada tersangka, hasil keterangan dokter bahwa dalam keadaan sehat dan sadar saat melakukan KDRT," ungkap Kapolres Sragen AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo di Mapolres, Rabu (29/1/2020).

Sebagaimana diketahui, kasus anak bunuh ibu kandung di Dukuh Pendem, Desa Sumberlawang, Sragen yang membuat gempar beberapa waktu lalu, memunculkan fakta baru. Saat dilakukan reka ulang, Selasa kemarin, polisi mengungkap bahwa pelaku yang bernama Hendriyanto (36), itu sempat mengalami putus cinta. Hal itulah yang membuat pelaku akhirnya mengalami gangguan jiwa. 

“Jadi pelaku ini sempat merantau ke Jakarta mengalami putus cinta sehingga kemudian mengakibatkan jiwanya terganggu," ujarnya.

AKBP Rafael Sandy menguraikan, aksi penganiayaan pelaku kepada ibu kandungnya, Daliyem (50) hingga meregang nyawa pada 2 Januari lalu itu dipicu karena permintaan tersangka ganti nama ditolak korban. Dari keterangan tersangka, dia meminta ganti nama karena merasa namanya saat ini terlalu sulit dan bikin sial karena ditolak perempuan. 

"Dia minta ganti nama karena tidak hoki dan minta ganti nama yang singkat saja, tapi ibunya menolak. Ibunya bilang nama susah bagus bancaan saja, tapi tersangka tidak mau. Setelah itu melakukan pemukulan kepada ibunya sampai jatuh dengan tangan kosong lima kali kena kepala bagian belakang," papar Kapolres.

Kapolres mengatakan bahwa tersangka tetap dijerat dengan pasal 44 ayat 3 junto 5a UU nomor 23/2004 tentang penghapusan KDRT. Dengan pasal 338 KUHP sub junto pasal 351 ayat tiga karena menghilangkan nyawa orang. "Ancaman hukuman 15 tahun penjara," tandasnya.

Kapolres menambahkan hasil observasi di RSJD Surakarta selama sepekan. Hasil keterangan observasi pelaku saat melakukan pemukulan dalam keadaan sadar.

"Hasil observasi seperti itu. Kan ada tim penilaiannya asesmen dari dokter seperti itu. Karena pukuli ibu kandung sampai meninggal dan viral makannya kita cek, hasilnya itu (sadar)," beber Raphael.

Tersangka Hendriyanto saat dihadirkan di  rilis perkara mengaku pingin ganti nama karena namanya seperti orang Belanda. Dia kepingin punya nama Jawa singkat. "Pengin ganti nama tapi terserah ibu saja," ucap Hendriyanto.

Dia mengaku sangat menyesal karena tindakan emosionalnya mengakibatkan ibunya meninggal dunia. Bahkan dirinya kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. "Iya menyesal ibu meninggal," ujarnya.

Sementara, Polres telah melakukan rekonstruksi di rumah korban Kamis (28/1) siang. Puluhan aparat diterjunkan untuk mengamankan situasi dan di sekitar lokasi rumah. Ada 22 adegan yang diperagakan tersangka.

Adegan penganiayaan yang mengakibatkan ibu tersangka meninggal terjadi pada adegan ke-7 sampai 13 pelaku memukul kepala ibunya lima kali dan menendangnya hingga akhirnya meregang nyawa.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00