• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Mimpi Buruk Coronavirus : Keluarga Inggris-China Terpaksa Berpisah Saat Evakuasi

29 January
21:27 2020
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Akibat isteri memiliki paspor China, sebuah keluarga Inggris yang terperangkap di tengah wabah Coronavirus menghadapi "mimpi terburuk" mereka. Sindy Siddle tidak akan diizinkan naik pesawat yang akan mengevakuasi mereka keluar dari negara itu.

Kantor Luar Negeri Inggris (FCO) telah memberitahunya bahwa karena dia memiliki paspor China, dia tidak akan diizinkan naik pesawat yang mengevakuasi warga negara Inggris dalam beberapa hari ke depan. 

Sebelumnya, Sindy Siddle melakukan perjalanan ke provinsi Hubei bersama suaminya, Jeff, dan anak perempuannya yang berusia sembilan tahun, Jasmine, untuk menghabiskan tahun baru dengan keluarganya di desa Hongtu.

Untuk diketahui, Sindy Siddle, akuntan berusia 42 tahun, telah memiliki visa untuk tinggal permanen di Inggris sejak 2008.

"Kepalaku berputar. Itu  mengerikan," kata Jeff Siddle (54) suami Sindy, yang sehari-harinya bekerja sebagai pengembang perangkat lunak IT di Inggris.

"Cobaan ini baru saja berubah menjadi mimpi terburuk kita ... Bagaimana mereka bisa menempatkan keluarga dalam posisi ini? Harus meninggalkan Sindy di Cina akan menjadi hal terburuk yang dapat dilalui siapa pun. Bagaimana saya bisa memberi tahu Jasmine bahwa ibunya harus ditinggalkan?" ucap Jeff seperti dituliskan Jessica Murray dan Michael Standaert, The Guardian, dari Wuhan, provinsi Hubei, China, Rabu (29/1/2020).

Saat berangkat ke China, mereka mengatakan tidak ada peringatan bahaya kesehatan sebelum berangkat ke sana, bahkan sebelum mereka terbang pada 15 Januari lalu. Tetapi sesampai mereka di Hubei, mereka sudah terperangkap dalam wabah yang telah merenggut lebih dari seratus jiwa.

“Tidak ada indikasi bahwa ada bahaya. Itu semua baru saja meningkat sejak kami tiba," kata Jeff.

Situasi keluarga Siddles sama dengan yang dialami keluarga lainnya. Natalie Francis, seorang guru Taman Kanak Kanak berusia 31 tahun asal York, Inggris mengatakan dia telah diberitahu putranya yang berusia tiga tahun, yang memiliki paspor China, tidak akan memenuhi syarat untuk evakuasi. Padsahal bocah itu memiliki hak tinggal di Inggris di bawah Undang-Undang Kebangsaan 1981.

“Saya akhirnya mendapat telepon pada jam 10 pagi ini dari seorang pria di Kantor Luar Negeri di London, yang kemudian mengatakan bahwa saya memenuhi syarat untuk evakuasi. Tetapi mereka tidak dapat mengambil anak saya. Dan saya berkata, 'Tidak ada yang bisa Anda lakukan? Maksudku, aku benar-benar punya surat dari kalian yang mengatakan dia warga negara Inggris," tutur Francis.

“Mereka mengatakan, siapa pun yang berkebangsaan Tiongkok atau kewarganegaraan lainnya tidak diizinkan untuk melanjutkan. Dan kemudian dia bertanya apakah saya masih ingin pergi? Dan saya katakan iya. Tapi saya katakan lagi, 'Jadi, Anda ingin saya meninggalkan anak laki-laki saya di Tiongkok, dan pulang (sendiri) ke rumah (Inggris)?" sambungnya.

"Dia (staf kantor luar negeri Inggris di Hubei) mungkin hanya berusaha menjalankan tugas dalam pekerjaannya, tetapi itu (yang dilakukannya) adalah hal konyol," kata Francis geram.

Saat ini, keluarga Siddles terperangkap di desa Hongtu dekat kota Jingmen, tiga jam perjalanan dari Wuhan, tanpa komunikasi selama beberapa hari terakhir dari pihak berwenang Inggris di Wuhan dan Beijing, yang menurut Jeff Siddle telah ditutup untuk tahun baru Imlek.

"Tidak ada banyak bantuan dari pihak Inggris sama sekali," katanya. 

“Jalan-jalan dari desa kami tidak memungkinkan mobil lewat, jadi kami secara efektif tidak bisa meninggalkan desa. Kami belum meninggalkan desa selama sekitar empat hari sekarang," kata Jeff.

Namun keluarga Siddles akhirnya menerima konfirmasi bahwa penerbangan akan tersedia bagi warga negara Inggris untuk meninggalkan China dalam beberapa hari ke depan. Tapi tentunya mereka akan menghadapi kendala besar untuk mencapai bandar udara Wuhan yang 150 mil jauhnya dari desa Hongtu, provinsi Hubei, karena sebagian besar jalan sudah ditutup.

Mengenai Sindy yang akan ditinggalkan, Kantor Luar Negeri Inggris (FCO) mengatakan akan mencatat di dalam file mereka bahwa Sindy adalah ibu dari seorang anak Inggris, tetapi tidak dapat menjadi jaminan bagi Sindy untuk ikut dalam evakuasi bersama pesawat yang dikirimkan pemerintah Inggris.

"Kantor Luar Negeri akan membawa warga negara Inggris meninggalkan provinsi Hubei. Detil sedang difinalisasi, dan FCO akan mengkonfirmasi ini secepat mungkin,” kata seorang juru bicara di Downing Street.

FCO menyarankan warga Inggris di Hubei untuk menghubungi nomor telepon otoritas Inggris di Hubei selama 24-jam secara khusus, sebelum pukul 11:00 waktu setempat Rabu ini, untuk mendaftarkan keinginan mereka dievakuasi keluar dari Hubei menuju Inggris.

Mendapati kenyataan bahwa kemungkinan besar dirinya tidak bisa ikut dalam rombongan besar evakuasi dari negaranya sendiri, Sindy Siddle mengutarakan, yang membuat hatinya hancur adalah saat mengetahui ia tidak bisa ikut diberangkatkan bersama suami dan anaknya, Jasmine. Tapi jika ini takdir yang harus ditempuh, ia akan menjalaninya, dengan merelakan suami dan anaknya pergi.

"Aku ingin bersama keluargaku dan merawat mereka, terutama putriku, tapi aku tidak tahu bagaimana cara memberi tahu putriku, bahwa 'kau harus pergi tanpa ibu'," kata Sindy dalam suasana hati penuh kehancuran.

Sindy Siddle, akuntan berusia 42 tahun, sebenarnya telah memiliki visa untuk tinggal permanen di Inggris sejak 2008. Sindy dinikahi Jeff Siddle, dan menjadi keluarga campuran Inggris-China yang tinggal di Prudhoe, Northumberland.

Memisahkan sebuah keluarga hanya karena salah satu masih memiliki paspor dari sebuah negara yang sedang tertimpa bencana virus mematikan merupakan mimpi buruk kemanusiaan, yang justru terjadi di tengah usaha menyelamatkan manusia dari bencana virus mematikan tersebut.

Sumber : Jessica Murray dan Michael Standaert, The Guardian
Foto : Istimewa/TheGuardian

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00