• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Polisi Medan Tak Sanggup Atasi Begal, Gadis Ini Kehilangan Ibu Dalam Lima Menit

28 January
12:46 2020
0 Votes (0)

KBRN, Medan : Peristiwa kejahatan jalanan jenis begal kembali terjadi di Kota Medan, yang menimpa Susanti (49) warga Dusun XII Kodam Lama, Medan Krio, Kecamatan Sunggal, di Jalan Amal, Simpang MICC Ringroad, Medan, Minggu (26/1/2020) siang.

Susanti akhirnya meninggal dunia akibat terjatuh dari kendaraan yang ditumpangi bersama anaknya, Rizky Ramadhani (18). Sepeda motor yang ditumpangi keduanya jatuh akibat menghindari aksi begal tersebut. Sementara itu, Rizky, anak Susanti menderita luka akibat kejadian tersebut.

Usai pemakaman jenazah ibunya, Kanna (Rizky Ramadhani) nampak terbaring lemas di sudut rumah duka berukuran 4×20 meter. Dirinya masih tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia terdiam, tatapannya kosong, sampai akhirnya perlahan mengalir pelan air mata di kedua pipinya. Kanna menyeka air mata dengan hijab hitam yang dikenakannya.

Dia menuturkan kepada wartawan kejadian tragis yang menjadi saat terakhirnya bersama sang ibu tercinta. Ia berangkat bersama ibunda Susanti sekitar pukul 10.00 WIB ke Loket Putra Pelangi yang berada di Jalan Ringroad, Medan, untuk mengambil paket obat-obatan kiriman dari Pekanbaru, Riau.

"Jadi awalnya sama ibu itu berangkat naik sepeda motor untuk ambil paket obat-obatan dari Loket Putra Pelangi," ucap Kanna, Selasa (28/1/2020) pagi. 

Setelah mengambil paket, dalam perjalanan pulang ke rumah ada dua pria mengendarai sepeda motor matic putih menyalip dari arah kanan dan mencoba mengambil paket kiriman berisi obat itu. Melihat hendak diambil orang, sang ibu langsung berteriak.

"Jadi waktu udah masuk Jalan Amal, setelah lampu merah yang di bawah jembatan penyambung gedung kanan-kiri. Tiba-tiba dari kanan saya ada dua laki-laki yang mencoba mengambil paket itu. Lalu ibu saya terkejut gitu sambil teriak Kanna! Masya Allah! Saya pun kaget, lalu kami berdua terjatuh," tuturnya.

Keadaan saat itu, setelah terjatuh, Kanna berada di sisi kiri tertimpa sepeda motor, sedangkan ibunya (Susanti) rupanya terjatuh ke kanan dan langsung disambar mobil yang kebetulan memang melintas saat kejadian. Semua terjadi begitu cepat, sehingga tak bisa saling menyalahkan mobil atau sepeda motor, melainkan begal itu. 

"Saya jatuh ke kiri ketimpa kereta (sepeda motor), di situ memang kosong. Tapi ibu jatuh ke kanan, ada mobil melintas, jadi terlindas atau cuma kesenggol  saya tidak memahaminya karena saat itu saya terjatuh dan kejadian begitu cepat. Saya tidak tahu lagi keadaan ibu di belakang, saya hanya bisa menjerit berteriak minta tolong," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kanna lanjut menuturkan, dirinya ditolong oleh warga setempat. Namun ia masih sempat melihat sang ibu tergeletak di jalan bersimbah darah. Setelah dibantu berdiri oleh warga, Kanna langsung bergegas menghampiri ibunya. 

Dan keadaan Susanti kala itu tergeletak penuh darah di wajahnya. Hidung mengeluarkan darah segar, hingga turun merambah bagian leher, dalam keadaan helm masih di kepalanya. Saat menuturkan, Kanna tampak sangat emosional dengan suara parau tak bisa menahan setiap luapan emosi mengingat betapa biadab aksi begal di kawasan Sunggal tersebut.

Dengan kaki dan tangan yang juga terluka, Kanna terus berusaha membantu ibunya. Sementara paket berisi obat-obatan milik sang ibu sudah tidak ada, dan itu tidak lagi menjadi fokusnya, karena buatnya nyawa sang ibu lebih berarti. Biarlah paket berisi obat itu diambil dua laki-laki begal tersebut, pikinya.

"Saya sudah tidak fokus sama paket itu, tapi saya rasa diambil karena kami sudah terjatuh semua. Saya juga tidak tahu, saya rasa udah diambil, karena ibu saya juga tidak ada pegang paketnya lagi," tambahnya.

Kemudian, ibunya langsung dibawa ke Rumah Sakit Bina Kasih menggunakan mobil pick up hingga akhirnya dinyatakan sudah meninggal dunia oleh pihak rumah sakit. 

"Saat di jalan sudah tergeletak, memang ibu tidak bergerak lagi atau melakukan interaksi apa-apa. Buka mata juga sudah tidak lagi, seperti tidak sadarkan diri. Setelah datang pick up, diangkat, saya tidak berani memeriksa keadaan ibu, karena harapan saya nanti di rumah sakit akan ada pertolongan. Sampai di sana, ibu saya diurus oleh tenaga medis, saya juga, dibersihkan semua luka dan darah kami," ujar Kanna, dengan nada bicara yang mulai tenang.

Tapi, setelah dipindahkan ke Instalasi Gtawat Darurat (IGD), barulah ia dijelaskan dengan perlahan oleh perawat di sana, bahwa orang yang terbaring di tempat tidur di seberangnya, sudah meninggal dunia. Sang ibu sudah tidak bersamanya lagi sejak awal tiba di rumah sakit.

"Di ruang IGD, saya ditarik tempat tidurnya ke dekat ibu saya dan dijelaskan perlahan bahwa ibu saya sudah meninggal dunia. Saat itulah saya menjerit, menangis sejadinya," tutup Kanna.

  • Tentang Penulis

    Joko SA

    System Admin RRI Medan<br />

  • Tentang Editor

    Miechell Octovy Koagouw

    Miechell Octovy Koagouw Editor RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00