• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Cegah Penyebaran Coronavirus, Mengapa ada Larangan Makan Pisang dan Nanas?

28 January
12:25 2020
0 Votes (0)

KBRN, Banda Aceh : Salah seorang mahasiswi Aceh bernama Syarifah Huswatun Miswar yang saat ini masih berada di Kota Changchung, Provinsi Jilin, China mengaku pemerintah setempat mengeluarkan imbauan atau larangan bagi masyarakat di sana untuk tidak memakan buah-buahan yang diimpor dari wilayah selatan China, terutama wilayah yang terparah terpapar virus Corona, yaitu Wuhan, Provinsi Hubei. 

Lalu mengapa ada larangan makan buah-buahan tersebut? 

Syarifah menjelaskan lewat sebuah video yang ia unggah seperti yang dilihat RRI, Selasa (28/1/2020) menjelaskan, pemerintah provinsi di China melarang masyarakat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu masyarakat juga dilarang memakan buah-buahan seperti pisang dan Nanas. 

Baca juga : Pengakuan Mahasiswi Aceh di China Soal Wabah Corona, Dilarang Makan Pisang dan Nenas

“Ada pengumuman dilarang makan pisang, nanas, khusus yang impor berasal dari wilayah selatan, wilayah selatan itu diketahui terdapat wabah virus Corona terparah, karena dikhawatirkan akan terjangkit virus corona," kata mahasiswi yang menempuh pendidikan di Jilin University itu. 

Meskipun demikian, kata Syarifah, pemerintah China, pusat maupun distrik telah menanggapi secara serius terhadap penyebaran virus mematikan itu dan berusaha mengatasinya. 

"Pemerintah Changchung telah merespon secara serius karena disini juga ditemukan tiga kasus corona, sehingga dari sebelumnya ditetapkan siaga 4 dinaikkan menjadi siaga 1," bebernya.

Syarifah mengaku hingga saat ini ia bersama sejumlah mahasiswa Indonesia lainya masih belum bisa keluar dari Negara tirai bambu itu terkait wabah virus corona. Namun kata Dia, wabah virus Corona di Changchung tidak separah seperti di Kota Wuhan Provinsi Hubei. 

“Menanggapi virus corona di Changcun dan Jilin sendiri tidak separah di daerah Wuhan, Hubei dan sekitarnya. Kami masih bisa keluar, masih bisa membeli makanan, dan stok makanan kami masih ada. Kalau perbatasan wilayah lain selain Wuhan tidak ditutup. Jadi pemasokan logistik masih teratasi, kira-kira cukup sampai bulan Februari,” ungkap Syarifah. 

Baca juga : Menparekraf : Perlu Langkah Antisipatif Sektor Pariwisata Cegah Masuk Virus Corona

Dia menuturkan, saat ini dirinya bersama sejumlah mahasiswa lain masih bertahan di asrama dan dalam kondisi sehat, tidak terpapar virus Corona.

Sementara itu, Pemerintah Aceh mencatat, jumlah mahasiswa Aceh yang berada di China mencapai 27 orang. Sementara 12 di antaranya masih terjebak di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Dilaporkan hari ini 8 mahasiswa Aceh dipulangkan ke Aceh, namun mereka bukan dari Kota Wuhan.  

Pemerintah Aceh juga telah mengirim bantuan berupa uang ke rekening masing-masing mahasiswa untuk membeli pasokan makanan, karena kabarnya pasokan makanan di Kota Wuhan telah menipis dan harganya mahal. 

(FOTO: NICOLAS ASFOURI / AFP)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00